Showing posts with label Pengetahuan umum. Show all posts
Showing posts with label Pengetahuan umum. Show all posts

Monday, October 12, 2015

"Barangsiapa mengikuti Aku harus meninggalkan segala-galanya"

HOME

"Barangsiapa mengikuti Aku harus meninggalkan segala-galanya"



"Barangsiapa ingin mengikuti Aku harus meninggalkan segala-galanya.", Kata-kata ini cukup sulit untuk dilaksanakan, tetapi demikianlah yang dilakukan oleh para nabi dan para murid kristus
Kisah Elia dan Elisa sangat jelas, Elisa taat dan mengikuti, ia memperoleh kasih karunia berlimpah dalam karya perutusan Elisa.
Kita selalu cenderung mengambil jalan kita sendiri, dan kerap kali lupa bahwa kita bebas memilih hidup menurut Roh yang tinggal dalam diri kita serta mengajak kita mengikuti Kristus, kalau kita mengikuti Kristus dalam wafatNya, maka kita akan ikut serta dengan Dia dalam kemuliaan kebangkitan , itulah iman serta hiburan kita, Semoga kita diteguhkan dalam iman akan Kristus Yesus, Tuhan kita.

Disadur dari http://peterbayu.blogspot.co.id

Friday, October 2, 2015

Darimana Asalnya Alkitab?

HOME
SEJARAH TERBENTUKNYA KITAB-KITAB PERJANJIAN LAMA

Alkitab Gereja Katolik terdiri dari 73 kitab, yaitu Perjanjian Lama terdiri dari 46 kitab sedangkan Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab. Bagaimanakah sejarahnya sehingga Alkitab terdiri dari 73 kitab, tidak lebih dan tidak kurang? Pertama, kita akan mengupas kitab-kitab Perjanjian Lama yang dibagi dalam tiga bagian utama: Hukum-hukum Taurat, Kitab nabi-nabi dan Naskah-naskah. Lima buku pertama: Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamat dan Kitab Bilangan dan Kitab Ulangan adalah intisari dan cikal-bakal seluruh kitab-kitab Perjanjian Lama. Pada suatu ketika dalam sejarah, ini adalah Kitab Suci yang dikenal oleh orang-orang Yahudi dan disebut Kitab Taurat atau Pentateuch.

Selama lebih dari 2000 tahun, nabi Musa dianggap sebagai penulis dari Kitab Taurat, oleh karena itu kitab ini sering disebut Kitab Nabi Musa dan sepanjang Alkitab ada referensi kepada "Hukum Nabi Musa". Tidak ada seorangpun yang dapat memastikan siapa yang menulis Kitab Taurat, tetapi tidak disangkal bahwa nabi Musa memegang peran yang unik dan penting dalam berbagai peristiwa-peristiwa yang terekam dalam kitab-kitab ini. Sebagai orang Katolik, kita percaya bahwa Alkitab adalah hasil inspirasi Ilahi dan karenanya identitas para manusia pengarangnya tidaklah penting.

Nabi Musa menaruh satu set kitab di dalam Tabut Perjanjian (The Ark of The Covenant) kira-kira 3300 tahun yang lalu. Lama kemudian Kitab Para Nabi dan Naskah-naskah ditambahkan kepada Kitab Taurat dan membentuk Kitab-kitab Perjanjian Lama. Kapan tepatnya isi dari Kitab-kitab Perjanjian Lama ditentukan dan dianggap sudah lengkap, tidaklah diketahui secara pasti. Yang jelas, setidaknya sejak lebih dari 100 tahun sebelum kelahiran Kristus, Kitab-kitab Perjanjian Lama sudah ada seperti umat Katolik mengenalnya sekarang.

Kitab-kitab Perjanjian Lama pada awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani (Hebrew) bagi Israel, umat pilihan Allah. Tetapi setelah orang-orang Yahudi terusir dari tanah Palestina dan akhirnya menetap di berbagai tempat, mereka kehilangan bahasa aslinya dan mulai berbicara dalam bahasa Yunani (Greek) yang pada waktu itu merupakan bahasa internasional. Oleh karena itu menjadi penting kiranya untuk menyediakan bagi mereka, terjemahan seluruh Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani. Pada waktu itu di Alexandria berdiam sejumlah besar orang Yahudi yang berbahasa Yunani. Selama pemerintahan Ptolemius II Philadelphus (285 - 246 SM) proyek penterjemahan dari seluruh Kitab Suci orang Yahudi ke dalam bahasa Yunani dimulai oleh 70 atau 72 ahli-kitab Yahudi - menurut tradisi - 6 orang dipilih mewakili setiap dari 12 suku bangsa Israel. Terjemahan ini diselesaikan sekitar tahun 250 - 125 SM dan disebut Septuagint, yaitu dari kata Latin yang berarti 70 (LXX), sesuai dengan jumlah penterjemah. Kitab ini sangat populer dan diakui sebagai Kitab Suci resmi (kanon Alexandria) kaum Yahudi diaspora (=terbuang), yang tinggal di wilayah Asia Kecil dan Mesir. Pada waktu itu Ibrani adalah bahasa yang nyaris mati dan orang-orang Yahudi di Palestina umumnya berbicara dalam bahasa Aram. Jadi tidak mengherankan kalau Septuagint adalah terjemahan yang digunakan oleh Yesus, para Rasul dan para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru. Bahkan, 300 kutipan dari Kitab Perjanjian Lama yang ditemukan dalam Kitab Perjanjian Baru adalah berasal dari Septuagint. Harap diingat juga bahwa seluruh Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.

Setelah Yesus disalibkan dan wafat, para pengikut-Nya tidak menjadi punah tetapi malahan menjadi semakin kuat. Pada sekitar tahun 100 Masehi, para rabbi (imam Yahudi) berkumpul di Jamnia, Palestina, mungkin sebagai reaksi terhadap umat Kristen. Dalam konsili Jamnia ini mereka menetapkan empat kriteria untuk menentukan kanon (=standard) Kitab Suci mereka: [1] Ditulis dalam bahasa Ibrani; [2] Sesuai dengan Kitab Taurat; [3] lebih tua dari jaman Ezra (sekitar 400 SM); [4] dan ditulis di Palestina. Atas kriteria-kriteria diatas mereka mengeluarkan kanon baru untuk menolak tujuh buku dari kanon Alexandria, yaitu seperti yang tercantum dalam Septuagint, yaitu: Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh, 1 Makabe, 2 Makabe, berikut tambahan-tambahan dari kitab Ester dan Daniel. (Catatan: Surat Nabi Yeremia dianggap sebagai pasal 6 dari kitab Barukh). Hal ini dilakukan atas alasan bahwa mereka tidak dapat menemukan versi Ibrani dari kitab-kitab yang ditolak diatas.

Gereja Kristen tidak menerima hasil keputusan rabbi-rabbi Yahudi ini dan tetap terus menggunakan Septuagint. Pada konsili di Hippo tahun 393 Masehi dan konsili Kartago tahun 397 Masehi, Gereja secara resmi menetapkan 46 kitab hasil dari kanon Alexandria sebagai kanon bagi Kitab-kitab Perjanjian Lama. Selama enam belas abad, kanon Alexandria diterima secara bulat oleh Gereja. Masing-masing dari tujuh kitab yang ditolak oleh konsili Jamnia, dikutip oleh para Bapa Gereja perdana (Church Fathers) sebagai kitab-kitab yang setara dengan kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Lama. Bapa-bapa Gereja, beberapa diantaranya disebutkan disini: St. Polycarpus, St. Irenaeus, Paus St. Clement, dan St. Cyprianus adalah para pemimpin spiritual umat Kristen yang hidup pada abad-abad pertama dan tulisan-tulisan mereka - meskipun tidak dimasukkan dalam Perjanjian Baru - menjadi bagian dari Deposit Iman. Tujuh kitab berikut dua tambahan kitab yang ditolak tersebut dikenal oleh Gereja Katolik sebagai Deuterokanonika (second-listed), atau kanon kedua. Disebut demikian karena disertakan dalam kanon Kitab Suci setelah melalui banyak perdebatan.

GEREJA KATOLIK MENDAHULUI KITAB PERJANJIAN BARU

Seperti Kitab-kitab Perjanjian Lama, Kitab-kitab Perjanjian Baru juga tidak ditulis oleh satu orang, tetapi adalah hasil karya setidaknya delapan orang. Kitab Perjanjian Baru terdiri dari 4 kitab Injil, 14 surat Rasul Paulus, 2 surat Rasul Petrus, 1 surat Rasul Yakobus, 1 surat Rasul Yudas, 3 surat Rasul Yohanes dan Wahyu Rasul Yohanes dan Kisah Para Rasul yang ditulis oleh Santo Lukas, yang juga menulis Kitab Injil yang ketiga. Sejak kitab Injil yang pertama yaitu Injil Matius sampai kitab Wahyu Yohanes, ada kira-kira memakan waktu 50 tahun. Tuhan Yesus sendiri, sejauh yang kita ketahui, tidak pernah menuliskan satu barispun dari kitab Perjanjian Baru. Dia tidak pernah memerintahkan para Rasul untuk menuliskan apapun yang diajarkan oleh-Nya. Melainkan Dia berkata: "Maka pergilah dan ajarlah segala bangsa" (Matius 28:19-20), "Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku" (Lukas 10:16).

Apa yang Yesus perintahkan kepada mereka persis sama seperti apa yang Yesus sendiri lakukan: menyampaikan Firman Allah kepada orang-orang melalui kata-kata, meyakinkan, mengajar, dan menpertobatkan mereka dengan bertemu muka. Jadi bukan melalui sebuah buku yang mungkin bisa rusak dan hilang, dan disalah tafsirkan dan diubah-ubah isinya, melainkan melalui cara yang lebih aman dan alami dalam menyampaikan firman yaitu dari mulut ke mulut. Demikianlah para Rasul mengajar generasi seterusnya untuk melakukan hal yang serupa setelah mereka meninggal. Oleh karena itu melalui Tradisi seperti inilah Firman Allah disampaikan kepada generasi-generasi umat Kristen sebagaimana pertama kali diterima oleh para Rasul.

Tidak satu barispun dari kitab-kitab Perjanjian Baru dituliskan sampai setidaknya 10 tahun setelah wafatnya Kristus. Yesus disalibkan pada circa tahun 33 dan kitab Perjanjian Baru yang pertama ditulis yaitu surat 1 Tesalonika baru ditulis sekitar tahun 50 Masehi. Sedangkan kitab terakhir yang ditulis yaitu kitab Wahyu Yohanes pada sekitar 90-100 Masehi. Jadi anda bisa melihat kesimpulan penting disini: Gereja dan iman Katolik sudah ada sebelum Alkitab dijadikan. Beribu-ribu orang bertobat menjadi Kristen melalui khotbah para Rasul dan missionaris di berbagai wilayah, dan mereka percaya kepada kebenaran Ilahi seperti kita percaya sekarang, dan bahkan menjadi orang-orang kudus tanpa pernah melihat ataupun membaca satu kalimatpun dari kitab Perjanjian Baru. Ini karena alasan yang sederhana yaitu bahwa pada waktu itu Alkitab seperti yang kita kenal, belum ada. Jadi, bagaimanakah mereka menjadi Kristen tanpa pernah melihat Alkitab? Yaitu dengan cara yang sama orang non-Kristen menjadi Kristen pada masa kini, yaitu dengan mendengar Firman Allah dari mulut para misionaris.

GEREJA KATOLIK MENETAPKAN KITAB PERJANJIAN BARU

Ke-dua puluh tujuh kitab diterima sebagai Kitab Suci Perjanjian Baru baik oleh umat Kristen Katolik maupun Kristen lain. Pertanyaannya adalah: Siapa yang memutuskan kanonisasi Perjanjian Baru sebagai kitab-kitab yang berasal dari inspirasi Allah? Kita tahu bahwa Alkitab tidak jatuh dari langit, jadi darimana kita tahu bahwa kita bisa percaya kepada setiap kita-kitab tersebut?

Berbagai uskup membuat daftar kitab-kitab yang diakui sebagai inspirasi Ilahi, diantaranya: [1] Mileto, uskup Sardis pada tahun 175 Masehi; [2] Santo Irenaeus, uskup Lyons - Perancis pada tahun 185 Masehi; [3] Eusebius, uskup Caesarea pada tahun 325 Masehi.

Pada tahun 382 Masehi, didahului oleh Konsili Roma, Paus Damasus menulis dekrit yang menulis daftar kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdiri dari 73 kitab.

Konsili Hippo di Afrika Utara pada tahun 393 menetapkan ke 73 kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Konsili Kartago di Afrika Utara pada tahun 397 menetapkan kanon yang sama untuk Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Catatan: Ini adalah konsili yang dianggap oleh banyak pihak non-Katolik sebagai yang menentukan bagi kanonisasi kitab-kitab dalam Perjanjian Baru.

Paus Santo Innocentius I (401-417) pada tahun 405 Masehi menyetujui kanonisasi ke 73 kitab-kitab dalam Alkitab dan menutup kanonisasi Alkitab.

Jadi kanonisasi Alkitab telah ditetapkan di abad ke empat oleh konsili-konsili Gereja Katolik dan para Paus pada masa itu. Sebelum kanon Alkitab ditetapkan, ada banyak perdebatan. Ada yang beranggapan bahwa beberapa kitab Perjanjian Baru seperti surat Ibrani, surat Yudas, kitab Wahyu, dan surat 2 Petrus, adalah bukan hasil inspirasi Allah. Sementara pihak lain berpendapat bahwa beberapa kitab yang tidak dikanonisasi seperti: Gembala Hermas, Injil Petrus dan Thomas, surat-surat Barnabas dan Clement adalah hasil inspirasi Allah. Keputusan resmi wewenang Gereja Katolik menyelesaikan hal diatas sampai sekitar 1100 tahun kemudian. Hingga jaman Reformasi Protestan, praktis tidak ada lagi perdebatan akan kitab-kitab dalam Alkitab.

Melihat sejarah, Gereja Katolik menggunakan wibawa dan kuasanya untuk menentukan kitab-kitab yang mana yang termasuk dalam Alkitab dan memastikan bahwa segala yang tertulis dalam Alkitab adalah hasil inspirasi Allah. Jika bukan karena Gereja Katolik, maka umat Kristen tidak akan dapat mengetahui yang mana yang benar.

KITAB VULGATA - KARYA SANTO YEREMIA

Ketika Kabar Gembira telah tersebar luas dan banyak orang menjadi Kristen, merekapun dibekali dengan terjemahan Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa asli mereka yaitu Armenia, Siria, Koptik, Arab dan Ethiopia bagi umat Kristen perdana di wilayah-wilayah ini. Bagi umat Kristen di Afrika dimana bahasa Latin paling luas digunakan, ada terjemahan kedalam bahasa Latin yang dibuat sekitar tahun 150 Masehi dan juga terjemahan berikutnya bagi umat di Italia. Akan tetapi semua ini akhirnya digantikan oleh karya besar yang dibuat oleh Santo Yeremia dalam bahasa Latin yang disebut "Vulgata" pada abad ke-empat. Pada masa itu ada kebutuhan besar akan Kitab Suci dan ada bahaya karena variasi terjemahan yang ada. Oleh karena itu sang biarawan, yang mungkin pada waktu itu adalah orang yang paling terpelajar, atas perintah Paus Santo Damascus pada tahun 382, membuat terjemahan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Latin dan mengoreksi versi-versi yang ada dalam bahasa Yunani. Lantas di Bethlehem antara tahun 392-404, dia juga menterjemahkan Kitab-kitab Perjanjian Lama langsung dari bahasa Ibrani (jadi bukan dari Septuagint) kedalam bahasa Latin, kecuali kitab Mazmur yang direvisi dari versi Latin yang sudah ada. Ini adalah Alkitab lengkap yang diakui resmi oleh wewenang Gereja Katolik, yang nilainya tak terukur menurut para ahli alkitab masa kini, dan terus mempengaruhi versi-versi lainnya sampai pada jaman Reformasi Protestan. Dari Vulgata inilah dihasilkan terjemahan dalam bahasa Inggris yang terkenal yaitu Douai-Rheims Bible.

HILANGNYA KITAB-KITAB ASLI

Hingga ditemukannya mesin cetak pada tahun 1450, semua Alkitab adalah hasil salinan tangan yang kita sebut manuskrip. Alkitab lengkap tertua yang masih ada hingga sekarang berasal dari abad ke-empat, dan isinya sama dengan Alkitab yang dipegang oleh umat Katolik yaitu terdiri dari 73 kitab. Apa yang terjadi dengan manuskrip-manuskrip asli yang ditulis oleh para penulis kitab Injil? Ada beberapa alasan akan hilangnya kitab-kitab asli tersebut:

Beberapa ratus tahun pertama adalah masa-masa penganiayaan terhadap umat Kristen. Para penguasa yang menindas Gereja Katolik menghancurkan segala hal yang menyangkut Kristenitas yang bisa mereka temukan. Selanjutnya, kaum pagan (non-Kristen) juga secara berulang-ulang menyerang kota-kota dan perkampungan Kristen dan membakar dan menghancurkan gereja dan segala benda-benda religius yang dapat mereka temukan disana. Lebih jauh lagi, mereka bahkan memaksa umat Kristen untuk menyerahkan kitab-kitab suci dibawah ancaman nyawa, lantas membakar kitab-kitab tersebut.

Alasan lainnya: media yang dipakai untuk menuliskan ayat-ayat Alkitab, disebut papirus - sangat mudah hancur dan tidak tahan lama, sedangkan perkamen, yang terbuat dari kulit binatang dan lebih tahan lama, sulit didapat. Kedua materi inilah yang disebutkan dalam 2 Yohanes 1:12 dan 2 Timotius 4:13. Umat Kristen perdana, setelah membuat salinan Alkitab, juga tampak tidak terlalu peduli untuk menjaga kitab aslinya. Mereka tidak beranggapan penting untuk memelihara tulisan-tulisan asli oleh Santo Paulus atau Santo Matius oleh karena mereka percaya penuh kepada kuasa mengajar Gereja Katolik yang mengajarkan iman Kristen melalui para Paus dan para uskup-uskupnya. Umat Katolik tidak melandaskan ajaran-ajarannya pada Alkitab semata-mata, tetapi juga kepada Tradisi Hidup, dari Gereja Katolik yang infallible. ubi Ecclesia, ibi Christus.

ALKITAB PADA ABAD PERTENGAHAN

Segenap umat Kristen berhutang budi kepada para kaum religius, imam, biarawan dan biarawati yang menyalin, memperbanyak, memelihara dan menyebar-luaskan Alkitab selama berabad-abad. Para biarawan adalah kaum yang paling terpelajar pada jamannya dan salah satu kegiatan utama mereka adalah menyalin isi Alkitab sedangkan biara-biara menjadi pusat penyimpanan naskah-naskah Alkitab ini. Umumnya masing-masing biara-biara di abad pertengahan memiliki perpustakaan tersendiri. Tidak kurang dari para raja dan kaum bangsawan dan orang-orang terkenal meminjam dari biara-biara ini. Para raja dan kaum bangsawan itu sendiri, bersama para Paus, uskup dan kepala-kepala biara, sering menghadiahkan Kitab Suci yang diberi hiasan yang indah kepada biara-biara dan gereja-gereja di seluruh Eropa.

Untuk menyalin satu Alkitab lengkap, diperlukan sekurangnya 10 bulan tenaga kerja dan sejumlah besar perkamen yang mahal harganya untuk memuat lebih dari 35000 ayat-ayat dalam Alkitab. Hal ini menjelaskan mengapa orang banyak tidak mampu memiliki setidaknya satu set Alkitab lengkap di rumah-rumah mereka. Mereka biasanya hanya memiliki salinan dari sejumlah pasal dalam Alkitab yang populer. Jadi kebiasaan memiliki bagian tertentu dari Alkitab secara terpisah adalah kebiasaan yang sepenuhnya Katolik dan yang hingga kini masih dilakukan.

Alkitab pada abad pertengahan umumnya ditulis dalam bahasa Latin. Hal ini dilakukan sama sekali bukan dimaksudkan untuk menyulitkan umat yang ingin membacanya. Kebanyakan orang pada masa itu buta huruf, sedangkan mereka yang mampu membaca, juga dapat mengerti bahasa Latin. Latin adalah bahasa universal pada waktu itu. Mereka yang mampu membaca lebih menyukai membaca Vulgata, versi Latin dari Alkitab. Oleh karena kenyataan tersebut, tidak ada alasan kuat untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa setempat secara besar-besaran. Namun meski demikian harap diingat bahwa sepanjang sejarah Gereja Katolik tetap menyediakan terjemahan Alkitab dalam bahasa-bahasa setempat.

MARTIN LUTHER DAN ALKITAB PROTESTAN

Pada tahun 1529, Martin Luther mengajukan kanon Palestina yang menetapkan 39 kitab dalam bahasa Ibrani sebagai kanon Perjanjian Lama. Luther mencari pembenaran dari keputusan konsili Jamnia (yang adalah konsili imam Yahudi, jadi bukan sebuah konsili Gereja Kristen!) bahwa tujuh kitab yang dikeluarkan dari Perjanjian Lama tidak memiliki kitab-kitab aslinya dalam bahasa Ibrani. Luther melakukan hal tersebut terutama karena sejumlah ayat-ayat yang terdapat pada kitab-kitab tersebut justru menguatkan doktrin-doktrin Gereja Katolik dan bertentangan dengan doktrin-doktrin baru yang dikembangkan oleh Martin Luther sendiri.

Oleh karena alasan yang serupa, Martin Luther juga nyaris membuang beberapa kitab-kitab lainnya: surat Yakobus, surat Ibrani, kitab Ester dan kitab Wahyu. Hanya karena bujukan kuat oleh para pendukung kaum reformasi Protestan yang lebih konservatif maka kitab-kitab diatas tetap dipertahankan dalam Alkitab Protestan. Namun demikian, tidak kurang Martin Luther mengecam bahwa surat Yakobus tidak pantas dimasukkan dalam Alkitab.

Untuk mendukung salah satu doktrinnya yang terkenal yaitu Sola Fide (bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman saja), dalam Alkitab terjemahan bahasa Jerman, Martin Luther menambahkan kata 'saja' pada surat Roma 3:28. Sehingga ayat tersebut berbunyi: "Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman saja, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat". Tidak heran kalau Martin Luther meremehkan surat Rasul Yakobus dan berusaha untuk membuangnya dari Perjanjian Baru, karena justru dalam surat Yakobus ada banyak ayat yang menjatuhkan doktrin Sola Fide yang diciptakan oleh Martin Luther tersebut. Antara lain, dalam Yakobus 2:14-15 tertulis: "Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?" dan Yakobus 2:17 "Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati" dan Yakobus 2:24 "Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman."

Pertanyaannya sekarang adalah: Kitab Perjanjian Lama manakah yang lebih baik anda baca? Kitab Perjanjian Lama yang digunakan oleh Yesus, para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru dan Gereja purba? Atau Kitab Perjanjian Lama yang ditetapkan oleh imam-imam Yahudi yang menolak Yesus Kristus dan menindas umat Kristen purba?

ALKITAB KATOLIK

Bahkan sebelum pecahnya Reformasi Protestan, ada banyak versi-versi Alkitab yang beredar pada masa itu. Banyak diantaranya mengandung kesalahan-kesalahan yang disengaja - seperti dalam kasus-kasus kaum bidaah, penyeleweng ajaran gereja yang berusaha mendukung doktrin-doktrin yang mereka ciptakan sendiri, dengan menuliskan Alkitab yang sudah diganti-ganti isinya. Ada juga kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja oleh karena faktor manusia (human error), mengingat pekerjaan menyalin Alkitab dilakukan dengan tulisan tangan, ayat demi ayat, yang sangat memakan waktu dan tenaga.

Oleh karena itu pada Konsili di Florence pada abad ke lima belas, para pemimpin Gereja menguatkan keputusan yang dibuat pada konsili-konsili sebelumnya mengenai kitab-kitab yang ada dalam Alkitab.

Setelah meletusnya Reformasi Protestan, pada Konsili Trente oleh Gereja Katolik pada tahun 1546 dikeluarkanlah dekrit yang mensahkan Vulgata, versi Latin dari Alkitab sebagai satu-satunya versi resmi yang diakui dan sah untuk umat Katolik. Alkitab ini direvisi oleh Paus Sixtus V pada tahun 1590 dan juga oleh Paus Clement VIII pada tahun 1593.

Selanjutnya pada konsili Vatikan I, kembali Gereja Katolik menegaskan keputusan konsili-konsili sebelumnya tentang Alkitab.

Oleh karena itu di akhir tulisan ini, kita dapat membuat beberapa kesimpulan:

Berdasarkan sejarah, Alkitab adalah sebuah kitab Katolik. Perjanjian Baru ditulis, disalin dan dikoleksi oleh umat Kristen Katolik. Kanon resmi dari kitab-kitab yang membentuk Alkitab - Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru - ditentukan secara berwibawa oleh wewenang Gereja Katolik pada abad ke empat.

Menuruti akal sehat dan logika, Gereja Katolik yang memiliki kuasa untuk menentukan Firman Allah yang infallible - bebas dari kesalahan -, pasti juga memiliki otoritas yang infallible - bebas dari kesalahan - dan juga bimbingan dari Roh Kudus. Seperti telah anda lihat, terlepas dari deklarasi oleh Gereja Katolik, kita sama sekali tidak memiliki jaminan bahwa apa yang tertulis dalam Alkitab adalah Firman Allah yang asli. Jika anda percaya kepada isi Alkitab maka anda juga harus percaya kepada wibawa Gereja Katolik yang menjamin keaslian Alkitab. Adalah suatu kontradiksi bagi seseorang untuk menerima kebenaran Alkitab tetapi menolak wibawa Gereja Katolik. Logikanya, mereka mestinya tidak mengutip isi Alkitab sama sekali, karena mereka tidak memiliki pegangan untuk menentukan kitab-kitab mana saja yang asli, kecuali tentunya kalau mereka menerima wibawa mengajar Gereja Katolik.

TANYA - JAWAB

Pertanyaan: Mengapa Alkitab umat Katolik terdiri dari 73 kitab sedangkan Alkitab umat Protestan terdiri dari 66 kitab?
Jawaban: Gereja Katolik melandaskan Perjanjian Lama pada Kanon Alexandria - lebih dari satu abad sebelum kelahiran Yesus Kristus - yang menetapkan 43 kitab yang disebut Septuagint sebagai kitab-kitab Perjanjian Lama. Protestan melandaskan Perjanjian Lama pada Kanon Palestina yang diadakan oleh imam-imam Yahudi untuk memerangi umat Kristen, sekitar tahun 100 Masehi. Perlu dicatat bahwa baik Yesus maupun para murid-muridNya menggunakan Septuagint yaitu berdasarkan Kanon Alexandria. Tidakkah anda sebagai umat Kristen, mestinya memakai Kitab Perjanjian Lama yang dipergunakan oleh Yesus dan para murid-muridNya, dan bukan malahan menggunakan versi Perjanjian Lama yang ditetapkan oleh para imam Yahudi yang ditetapkan puluhan tahun setelah wafat dan kebangkitan Yesus?

Pertanyaan: Benarkah bahwa Gereja Katolik pernah melarang umat Kristen untuk membaca Alkitab dan apakah benar bahwa atas berkat jasa Martin Luther maka umat Katolik sekarang boleh membaca Alkitab?
Jawaban: Satu-satunya kejadian dalam sejarah Gereja menyangkut larangan kaum awam membaca/memiliki Alkitab dikeluarkan hanya oleh beberapa uskup di Perancis pada abad ke-13 untuk memerangi kaum bidaah Albigensian di Perancis. Larangan itu dihapuskan 40 tahun kemudian setelah pupusnya pendukung bidaah tersebut. Jadi wewenang Gereja Katolik tidak pernah mengeluarkan larangan kepada umat Katolik untuk membaca Alkitab. Apalagi anggapan bahwa Martin Luther memiliki jasa apapun atas Gereja Katolik. Ada dongeng yang mengisahkan bahwa Martin Luther-lah yang "menemukan" Alkitab. Tapi kalau anda membaca buku-buku sejarah gereja yang berbobot, maka anda akan menemukan bahwa justru Martin Luther-lah yang bertanggung jawab menghapuskan kitab-kitab Deuterokanonika dari Perjanjian Lama, dan bahkan nyaris menghapuskan lebih banyak lagi kitab-kitab dari dalam Alkitab.

Pertanyaan: Benarkah bahwa Gereja Katolik mempersulit umat Kristen untuk membaca Alkitab dengan hanya menyediakan terjemahan dalam bahasa Latin?
Jawaban: Pada waktu itu, orang yang mampu membaca, juga mampu membaca Latin. Karena Latin adalah bahasa internasional pada jaman itu. Lebih jauh lagi, Vulgata, versi Latin dari Alkitab hasil karya Santo Yeremia amat digemari oleh umat Kristen. Jadi tidak ada kebutuhan yang mendesak untuk menyediakan Alkitab dalam berbagai bahasa. Namun demikian ada juga terjemahan Kitab Suci dalam bahasa-bahasa setempat.

Pertanyaan: Benarkah bahwa Gereja Katolik pernah membakar Alkitab?
Jawaban: Selama berabad-abad Gereja dilanda oleh berbagai bidaah (heresy). Para pendukung bidaah menggunakan Alkitab yang sudah diselewengkan isinya untuk mendukung doktrin-doktrin mereka sendiri. Gereja Katolik sebagai penjaga keaslian Alkitab juga berhak dan berwibawa untuk memastikan bahwa umat Kristen memiliki Alkitab yang isinya tidak dikorupsi demi kepentingan sekelompok orang. Oleh karena itu otoritas Gereja Katolik memusnahkan alkitab-alkitab yang isinya mengandung kesalahan ini dan sebagai gantinya menyediakan Alkitab yang murni isinya. Martin Luther bukan satu-satunya orang yang pernah mengubah isi Alkitab.

Pertanyaan: Jika penggunaan Alkitab meluas pada abad-abad pertengahan, mengapa hanya sedikit kitab-kitab kuno ini yang tertinggal?
Jawaban: Ada beberapa alasan. Pertama, ada banyak terjadi peperangan sehingga banyak manuskrip-manuskrip kuno ini ikut musnah. Kedua, media yang dipergunakan mudah rusak dan tidak tahan lama. Ketiga, pengrusakan besar-besaran yang dilakukan dengan sengaja seperti pada masa pecahnya reformasi Protestan. Kaum pendukung reformasi Protestan menghancurkan segala hal yang berbau Katolik. Gereja-gereja, biara-biara, tempat-tempat ziarah beserta penghuni dan semua isinya yang bernilai tinggi menjadi korban pergolakan.

Pertanyaan: Mengapa kitab-kitab yang ditolak dari Perjanjian Lama oleh imam-imam Yahudi itu disebut sebagai Deuterokanonika?
Jawaban: Deuterokanonika artinya kira-kira kanon kedua. Disebut demikian karena disertakan setelah melalui banyak perdebatan. Santo Yeremia sendiri pernah mengutarakan kekhawatirannya akan keaslian kitab-kitab tersebut. Akan tetapi keputusan konsili-konsili Gereja Katolik dan para Paus menghentikan perdebatan dan menghapus kekhawatiran para ahli teologi pada masa itu. Santo Agustinus dari Hippo - salah satu Bapa dan Pujangga Gereja - pernah mengatakan begini: "Aku tidak akan meletakkan imanku pada kitab Injil, jika bukan karena otoritas Gereja Katolik yang mengarahkan aku untuk berbuat demikian." Bahwa keputusan Gereja Katolik untuk tetap mempertahankan kitab-kitab Deuterokanonika dan mengabaikan Kanon Palestina, menunjukkan bimbingan Roh Kudus yang membawa kepada segala kebenaran (Yohanes 16:13). Ketika Gulungan-gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls) ditemukan di Qumran, tepi barat sungai Yordan pada abad ke-20 ini, diantaranya terdapat sebagian salinan-salinan asli dalam bahasa Ibrani atas sejumlah kitab-kitab Deuterokanonika.

Pertanyaan: Mengapa disebutkan bahwa Deuterokanonika terdiri dari tujuh kitab sedangkan dalam Alkitab bahasa Indonesia yang saya miliki ada sepuluh bagian dalam Deuterokanonika?
Jawaban: Tujuh kitab-kitab tersebut adalah Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Yesus bin Sirakh, Barukh, 1 Makabe dan 2 Makabe. Tambahan-tambahan pada kitab Ester dan Daniel tentunya dimasukkan kedalam kitab-kitab yang bersangkutan sedangkan Surat Nabi Yeremia dimasukkan sebagai pasal 6 dari kitab Barukh. Dalam Alkitab bahasa Indonesia terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, kitab-kitab Deuterokanonika diletakkan ditengah, jadi tidak sesuai urutan yang semestinya. Ini untuk memudahkan penerbit yang sama menerbitkan Alkitab versi Protestan, yaitu tanpa Deuterokanonika. Jika anda membeli Alkitab dalam bahasa Inggris seperti di Amerika contohnya, kitab-kitab Deuterokanonika dimasukkan dalam urutannya yang alami. Perlu juga disebutkan disini bahwa versi-versi Alkitab Protestan pada awalnya - seperti versi asli King James Bible - masih memiliki Deuterokanonika di dalamnya.

Pertanyaan: Ada berapakah versi Alkitab dalam bahasa Inggris?
Jawaban: Dalam bahasa Inggris, ada beberapa versi Alkitab baik bagi umat Katolik maupun Protestan. Bagi umat Katolik ada versi RSVCE (Revised Standard Version Catholic Edition) yang dipakai sebagai terjemahan resmi. Ada NAB (New American Bible) yaitu yang merupakan Alkitab yang populer di kalangan umat Katolik di Amerika Serikat. Ada juga NJB (New Jerusalem Bible) yaitu Alkitab yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani dan dipakai oleh sebagian kalangan Gereja Katolik dari ritus-ritus Timur. RSVCE adalah versi yang paling serupa dengan bahasa asli kitab suci karena merupakan terjemahan kata-demi-kata. Sedangkan NAB dan NJB serta beberapa versi lainnya merupakan terjemahan yang sudah disesuaikan dengan pemakaian bahasa Inggris pada masa kini, jadi penekanan pada segi arti dari kata-kata/kalimat yang dipakai pada bahasa asli kitab suci. Beberapa versi Alkitab Protestan, diantaranya adalah: RSV (Revised Standard Version), KJV (King James Version), NIV (New International Version), Tyndale Bible dan Zonderfan Bible. Untuk mengenalinya mudah saja, di dalamnya tidak terdapat kitab-kitab Deuterokanonika. Sebetulnya ada juga yang menyertakan kitab-kitab Deuterokanonika, yaitu yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit sekuler seperti Oxford dan lain-lain. Namun mereka menyebut Deuterokanonika dengan sebutan Apokrif (Apocripha). Alkitab-alkitab Katolik juga memiliki Imprimatur dan Nihil-Obstat yang dapat anda temukan pada bagian muka dari Alkitab tersebut. Ini praktisnya adalah tanda bahwa buku yang bersangkutan telah diperiksa oleh Gereja Katolik, apakah itu imam ataupun uskup. Jika anda ingin memiliki Alkitab Katolik bahasa Inggris, silakan membeli salah satu versi Katolik yang telah disebutkan diatas. Alkitab NAB selalu memiliki catatan kaki yang membantu memperjelas ayat-ayat dan perikop-perikop dalam Kitab Suci. NAB study-bible terbitan Oxford juga dilengkapi dengan penjelasan-penjelasan sejarah PL dan PB. Harga Alkitab NAB bahasa Inggris bervariasi sekitar US$7 sampai US$24.

Pertanyaan: Ada sementara orang yang percaya bahwa di dalam Alkitab umat Kristiani telah terjadi salah terjemahan yang sangat fatal: yaitu kata "Lord" dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai "Tuhan" dalam bahasa Indonesia, padahal kamus Inggris-Indonesia menyebutkan bahwa kata "lord" mestinya diterjemahkan sebagai "tuan", bukan "Tuhan". Dengan demikian hal ini mendukung teori agama mereka yang mengatakan bahwa Yesus jelas bukan Tuhan dan sekedar manusia biasa.
Jawaban: Pertama-tama perlu ditegaskan disini, bahwa Alkitab bahasa Indonesia tidaklah diterjemahkan dari Alkitab bahasa Inggris. Lihatlah pada bagian awal Alkitab dimana tertulis bahwa "Teks Perjanjian Lama diterjemahkan dari Bahasa Ibrani. Teks Perjanjian Baru diterjemahkan dari Bahasa Yunani. Teks Deuterokanonika diterjemahkan dari Bahasa Yunani". Kedua, perlu diketahui bagi orang Indonesia yang jelas bukan native English speaker - bahwa kata "Lord" dalam Alkitab berarti "God" atau "Tuhan". Kata "Lord" bukan hanya digunakan pada Yesus, tetapi juga pada Allah Bapa dalam ayat-ayat Perjanjian Lama.

Thursday, September 16, 2010

Apakah Yesus itu Allah?

HOME

Pernahkan anda bertemu dengan seseorang, yang punya magnet personal begitu besar, sehingga dia selalu jadi pusat perhatian? Mungkin karena kepribadiannya atau kepintarannya--- tapi ada sesuatu dari dia yang mempesona. Itulah yang terjadi dua ribu tahun lalu terhadap Yesus Kristus. Keagungan Yesus sangat jelas bagi mereka yang melihat dan mendengarNya. Tapi, ketika sebagian besar orang besar pelan-pelan hilang dalam buku-buku sejarah, Yesus dari Nazareth tetap jadi fokus kontroversi di banyak buku dan media. Dan sebagian besar kontroversi berada disekitar klaim radikal Yesus mengenai dirinya sendiri. Sebagai tukang kayu dari sebuah desa di Galilea di Israel, Yesus, mengklaim drinya, jika benar, memberi implikasi besar terhadap hidup kita. Menurut Yesus, anda dan saya istimewa, bagian dari rencana besar kosmis dan Dia adalah pusat dari semuanya. Klaim ini dan yang lain semacamnya mengagetkan mereka yang mendengarnya. Terutama karena klaim, yang membuat marah, Yesuslah yang menyebabkan Dia dipandang sebagai pengacau oleh penguasa Romawi dan Yahudi. Kendati Dia adalah orang luar yang tidak punya kredensial atau basis politik, dalam waktu tiga tahun, Yesus mengubah dunia selama 20 abad terakhir ini. Pemimpin moral dan agama lain meninggalkan dampak --- tapi tidak seperti tukang kayu yang tidak dikenal dari Nazareth. Ada apa tentang Yasus Kristus yang membuatnya berbeda? Apakah dia hanya seorang besar, atau sesuatu yang lebih? Pertanyaan-pertannyaan ini masuk ke inti siapa Yesus sebenarnya. Ada yang percaya dia hanyalah guru moral yang besar, yang lain percaya dia hanyalah pemimpin dari agama terbesar dunia. Namun banyak yang percaya lebih jauh lagi. Orang Kristen percaya Allah telah melawat kita dalam bentuk manusia. Dan mereka percaya ada bukti-bukti yang mendukungnya. jadi, Siapa sebenarnya Yesus? Mari kita lihat lebih dekat. Ketika kita melihat lebih dalam dari pribadi yang paling kontroversial di dunia, kita mulai bertanya apa mungkin Yesus hanyalah seorang guru moral yang besar? Guru Moral Yang Besar? Hampir semua ahli mengakui Yesus adalah guru moral yang besar. Pada kenyataannya, kedalaman tajamNya dalam moralitas kemanusiaan adalah sebuah pencapaian yang juga diakui oleh agama-agama lain. Dalam bukunya, Jesus of Nazareth, pakar Yahudi, Joseph Klausner menulis, "Secara universal diakui .... Kristus mengajarkan etika yang paling murni dan sempurna... yang melempar semua persepsi dan pepatah dari manusia paling bijak di jaman kuno jauh kedalam bayangan."[1] Khotbah Yesus di atas bukit telah disebut sebagai pengajaran paling unggul etika manusia yang pernah diutarakan oleh seorang individu. Pada kenyatannya aka yang sekarang kita kenali sebagai "persamaan hak" adalah hasil dari pengajaran Yesus. Sejarahwan Will Durant menyatakan jika Yesus hidup dan memperjuangkan persamaan hak di era modern Dia akan langsung dikirim ke Siberia. "Dia yang terbesar diantara kamu, adalah dia yang melayani kami" --- ini telah membalikkan semua kebijaksanaan politik, yang sudah wajar.[2]2 Sebagian orang mencoba memisahkan pengajaran etika Yesus dari klamNya tentang diriNya, dan percaya Dia hanyalah manusia biasa yang besar dan mengajarkan prinsip - prinsip moral luhur (mulia). Inilah pendekatan yang diambil dari salah satu bapa pendiri Amerika.Presiden Thomas Jefferson, rasionalis yang tercerahkan, duduk di Gedung Putih dengan dua kopi identik Perjanjian Baru, sebuah silet dan kertas. Sepanjang beberapa malam, dia menggunting dan menempelkan kitab sucinya, yang tipis dan disebutnya "Filsafat Yesus dari Nazareth". Setelah memotong semua ayat/kalimat yang menyebutkan (menyiratkan) Ke-Tuhan-an Yesus, Jefferson mempunyai Yesus yang tidak lebih dan tidak kurang daripada sebuah panduan etika yang baik.[3] Ironisnya, kata-kata Jefferson, yang dikenang, di Deklarasi Kemerdekaan berakar pada pengajaran Yesus bahwa setiap orang sangat berharga dan penting bagi Allah, terlepas dari jenis kelamin, ras, atau status sosial. Dokumen terkenal itu menambahkan, "Kami pegang teguh kebenaran yang telah membuktikan dirinya sendiri, bahwa semua manusia diciptakan setara, bahwa mereka diperlengkapi oleh Penciptanya dengan hak-hak azasi. Tapi Jefferson tidak pernah bertanya, bagaimana Yesus bisa jadi pemimpin moralitas besar jika Dia berbohong tentang Dia adalah Allah? Jadi mungkin Dia tidak benar-benar bermoral, tapi motifnya adalah memulai sebuah agama besar. Mari kita lihat jika itulah penjelasan tentang kebesaran Yesus.

Pemimpin Besar Agama?
Apakah Yesus pantas disebut sebagai "pemimpin besar agama"? Kejutannya, Yesus tidak pernah mengklaim diriNya sebagai pemimpin agama. Dia tidak pernah masuk dalam perpolitikan agama atau didorong oleh agenda ambisius dan Dia melayani (berkotbah) diluar kerangka kelembagaan agama. Ketika membandingkan Yesus dengan pemimpin besar agama lain, perbedaan besar muncul. Ravi Zacharias, yang besar dalam budaya Hindu, mempelajari agama-agama dunia dan mengamati perbedaan fundamental antara pendiri agama lain dengan Yesus Kristus. "Apapun yang kita buat terhadap klaim mereka, satu realitas tidak akan terlewatkan. Mereka adalah guru-guru yang menunjuk pengajaran atau memperlihatkan jalan tertentu. Dari semua, muncul perintah-perintah, cara hidup. Bukanlah Zoroaster yang jadi panutan; Zoroaster yang anda dengarkan. Bukan Buddha yang membebaskan anda; Kebebarannya yang Agung yang memerintahkan anda. Bukan Muhammad yang mengubah anda; keindahan Quran yang menarik anda. Kontrasnya, Yesus tidak hanya mengajar atau menjelaskan pesan-pesanNya. Dia identik dengan pesanNya."[40 Kebenaran Zacharias diperjelas dengan beberapa kali di Injil pesan pengajaran Yesus hanyalan "Datang kepada Ku" atau "Ikut Aku" atau "Patuhi Aku". Juga, Yesus menegaskan bahwa misi utamanya adalah untuk mengampuni dosa, sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Allah. Tidak ada pemimpin agama besar yang pernah mengklaim berkuasa mengampuni dosa. Tapi bukan klaim itu saja yang memisahkan Yesus dari yang lain. Dalam The World’s Great Religions, Huston Smith mengamati, "Hanya dua orang yang sangat mengejutkan orang pada jamannya sehingga pertanyaan yang ditujukan kepadanya bukanlah "Siapa dia?" tapi ‘Dia itu apa?’ Mereka adalah Yesus dan Buddha. Jawaban keduanya atas pertanyaan ini bertentangan. Buddha dengan tegas menyatakan dia hanyalah seorang manusia bukan allah --3- seakan-akan dia bisa memperkirakan belakangan ada upaya untuk memujanya. Yesus, disisilain, mengklaim.... Dia itu Tuhan.”[5] Apakah Yesus Mengklaim Dirinya Adalah Allah? Sudah jelas, sejak awal gereja, Yesus dipanggil Tuhan dan dipandang oleh orang Kristen sebagai Allah. Namun tetap saja Ke-Tuhan-an Yesus terus jadi perdebagan besar. Jadi pertanyaan —a dan memang pertanyaannya — adalah : Apakah Yesus mengklaim diriNya adalah Allah (Pencipta), atau semacam mahluk mulia yang diciptakan atau diasumsikan oleh para penulis Perjanjian Baru? (Lihak “Apa Yesus Mengklaim diriNya adalah Allah”) Beberapa ahli percaya Yesus adalah guru yang sangat berkuasa dan mempunyai kepribadian yang mendorong murid-murudNya berasumsi Dia adalah Allah. Atau mereka hanya ingin untuk berpikir Dia adalah Allah, John Dominic Crossan dan Seminar Yesus (kelompok pakar, yang skeptis, dengan prasangka menolak mujizat) adalah sebagian orang yang percaya Yesus didefenisikan salah. Kendati buku seperti The Da Vinci Code berpendapat Ke-Tuhan-an Yesus adalah doktrin gereja saja, bukti-bukti memperlihatkan sebaliknya (Lihat “Apa ada Konspirasi Da Vinci ?”). Sebagian besar orang Kristen yang menerima Injil, yang bisa dipercaya, menekankan Yesus memang mengklaim diriNya sebagai Tuhan (Allah). Dan kepercayaan ini bisa ditelusuri kebelakang sampai pada pengikut Yesus di awalnya (langsung).Tapi ada juga mereka yang menerima Yesus sebagai guru agung, tapi tidak bersedia menyebutNya sebagai Allah. Thomas Jefferson tidak mempersoalkan untuk menerima pengajaran Yesus atas moral dan etika tapi menolak Ke-Tuhan-anNya.[6] Tapi seperti kami sudah katakan, dan akan dijelaskan kemudian, jika Yesus bukanglah seperti yang diklaimNya, maka kita harus mencari alternatif lain, yang tidak satupun akan membuat Dia jadi guru agung moral. Bahkan membaca sekilas Injil akan mengungkapkan bahwa Yesus mengklaim lebih dari nabi seperti Musa atau Daniel. Tapi sifat dasar klaim-klaim itu jadi perhatian kita. Dua pertanyaan perlu diperhatikan.
• Apakah Yesus mengklaim diriNya adalah Allah?
• Ketika Dia katakan "Allah", apakah Yesus benar-benar memaksudkannya Dia adalah Pencipta alam semesta seperti yang disebut oleh Kitab Suci Yahudi. Untuk menjawab kedua pertanyaan itu, kita perlu mempertimbangkan kata-kata Yesus di Matius 28:18, "KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi." Apa yang dimaksudkan dengan Yesus telah "diberikan" kuasa? Sebelum menjadi manusia, kita diberitahu bahwa Dia bersama-sama dengan Bapa, dan sebagai Allah, Dia punya semua kuasa. Namun Filipi 2:6-11 menceritakan kepada kita kendati Yesus telah ada dalam bentuk Allah, Dia "melepaskan" kekuasaan Allah untuk lahir jadi manusia. Namun bagian surat itu juga menyatakan kepada kita bahwa setelah kebangkitan, Yesus dipulihkan lagi dalam kemulianNya semula dan satu hari nanti "setiap lutut akan bertelut kepadaNya dan menyebut Tuhan." Jadi, apa yang dimaksud Yesus ketika dia mengklaim memiliki seluruh kuasa di sorga dan di bumi? Kekuasaan merupakan istilah yang dikenal baik di Israel, yang dijajah Romawi kala itu. Pada saat itu, Kaisar adalah kekuasaan tertinggi diseluruh Romawi. Keputusannya bisa langsung mengirim pasukan untuk berperang, menghukum penjahat, dan menetapkan hukum 4 dan peraturan pemerintah. Pada kenyataannya, kekuasaan Kaisar begitu besar sehingga dia sendiri mengklaim dirinya sama dengan Tuhan. Jadi, hal paling kecil kemungkinannya adalah Yesus mengklaim punya otoritas sama dengan Kaisar. Tapi Dia tidak hanya mengatakan Dia punya kekuasaan lebih dari para pemimpin Yahudi atau penguasa Romawi; Yesus mengklaim memiliki otoritas (kuasa) tertinggi di alam semesta. Bagi mereka yang mendengarNya, itu berarti Dia adalah Allah. Bukan salah satu allah --- tapi ALLAH. Baik perkataan dan tindakan menegaskan fakta bahwa mereka benar-benar percaya Yesus adalah Allah. (Lihat "Apakah Para Rasul Percaya Yesus adalah Allah? ") Apakah Yesus Mengklaim Sebagai Pencipta? Tapi mungkin Yesus hanya merefleksikan otoritas Allah dan tidak menyatakan bahwa Dia adalah Pencipta. Pertama dibaca sekilas kelihatannya tidak meyakinkan. Namun klaim Yesus memiliki seluruh kuasa akan masuk akal jika Dia adalah Pencipta alam semesta. Kata "seluruh" berarti segala sesuatu termasuk penciptaan itu sendiri. Ketika kita menggali lebih dalam kata-kata Yesus sendiri, sebuah pola mulai muncul. Yesus membuat penegasan tentang diriNya, jika benar, tidak salah lagi merujuk pada Ke-Tuhan-anNya. Inilah sebagian pernyatan yang dicatat oleh para saksi mata
.• "Akulah kebangkitan dan hidup" (Yohanes 11:25)
• “Akulah terang dunia.” (Yohanes 8:12)
• “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:30)
• “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal danYang Akhir. ” (Wahyu 22:13).”
• “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” (Yohanes 14:6)
• “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes14:6)
• “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” (Yohanes 14:9)
Sekali lagi, kita harus kembali kepada konteks. Dalam Kitan Suci Yahudi, ketika Musa bertanyakepada Allah namaNya didepan semak yang berapi, Allah menjawab, "AKU". Dia mengatakan kepada Musa bahwa Dia adalah satu-satunya Pencipta, abadi dan ada disemua tempat. Sejak jaman Musa, tidak ada satupun orang Yahudi yang berani menyebut dirinya atau orang lain dengan sebutan "AKU". Karena itu, klaim Yesus sebagai "AKU" langsung membuat para pemimpin Yahudi sangat marah. Satu kali, contohnya, beberapa pemimpin Yahudi menjelaskan kepada Yesus kenapa mereka mencoba membunuhNya, "karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah." (Yohanes 10:33). Tapi pada pokoknya bukan hanya kalimat-kalimat itu yang membuat para pemimpin agama marah. Poinnya adalah mereka tahu persis apa yang Dia katakan ---Dia mengklaim diriNya sebagai Allah, Pencipta alam semesta. Hanya dengan klaim ini membawa pada tuduhan penghujatan. Membaca teks klaim Yesus bahwa Dia adalah Allah sudah sangat jelas, bukan hanya oleh kalimatNya, tapi juga oleh reaksi mereka yang mendengarnya. Allah Seperti Apa? Ide bahwa kita semua bagian dari Allah, dan didalam kita ada bibit ke-Tuhan-an, tidaklah bisa diterapkan bagi kata-kata dan tindakan Yesus. Pemikiran semacam itu berasal dari kaum revisionis, asing bagi pengajaranNya, asing bagi keyakinan yang dikatakanNya, dan asing bagi para muridNya yang mengerti pengajaranNya. Yesus mengajarkan Dia adalah Allah5 seperti yang dipahami orang Yahudi tentang Allah dan sama dengan Kitab Suci Yahudi gambarkan atas Allah, bukan seperti gerakan Abad Baru pahami mengenai Allah. Yesus maupun para pendengarnya tidak pernah tahu tentang Star Wars, sehingga jika mereka berbicara tentang Allah, mereka tidak membicarakan kekuatan kosmis. Hanya akan jadi sejarah yang jelek untuk meredefenisi ulang apa yang dimaksud Yesus akan konsep Allah. Tapi jika Yesus bukan Allah, apakah kita bisa tetap menyebutNya sebagai guru agung moral? C. S. Lewis berargumen, ”Saya disini mencoba mencegah siapapun menyatakan hal bodoh yang sering dikatakan orang mengenai diriNya: 'saya siap menerima Yesus sebagai guru agung moral, tetapi saya tidak menerima klaimnya sebagai Allah.' Hal ini tidak boleh dikatakan."[7] Dalam pencarian akan kebenaran, Lewis tahu bahwa dia tidak bisa mengambil dua jalan itu berkaitan dengan identitas Yesus. Benar klaim Yesus bahwa Dia adalah Allah dalam daging atau klaimNya salah. Dan jika salah, Yesus bukanlah guru agung moral. Dia bisa dengan sengaja berbohong atau Dia hanyalah orang gila, yang menganggap diriNya Allah. Apakah Yesus Pembohong? Salah satu buku politik paling terkenal dan berpengaruh ditulis oleh Noccolo Machiavelli 1532. Dalam buku klasik, The Prince, Machiavelli menjelaskan untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan, sukses, dan efesiensi adalah melampaui kesetiaan, iman, dan kejujuran. Menurut Machiavelli, berbohong itu bagus jika untuk mencapai tujuan politik. Mungkinkah Yesus Kristus membangun seluruh pelayananNya berdasarkan kebohongan untuk memperoleh kekuasaan, kemashuran, atau keberhasilan? Faktanya, orang Yahudi, musuh Yesus, secara konstan berusaha memperlihatkan Dia sebagai pembohong dan penipu. Mereka akan menyerang Dia dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menjebakNya dan membuat Dia berkontradisksi dengan diriNya sendiri. Namun Yesus selalu menjawab dengan konsistensi yang mengagumkan. Pertanyaan yang harus kita hadapi adalah, apa mungkin motivasi Yesus hidup seperti hidupNya adalah kebohongan? Dia mengajar Allah menentang kebohongan dan kemunafikan, jadi Dia tidak akan melakukan itu untuk menyenangkan BapaNya. Dia pasti tidak berbohong demi keuntungan para pengikutNya. (Seluruh murid kecuali satu orang mati terbunuh jadi martir.) Akhirnya kita tinggal punya dua kemungkinan penjelasan, yang punya problemnya sendiri. Keuntungan Banyak orang berbohong untuk memperoleh keuntungan pribadi. Faktanya, kebanyakan bohong dimotivasi oleh keuntungan pribadi. Apa yang Yesus harapkan dari berbohong atas identitasNya? Kekuasaan jadi jawaban paling mudah diperoleh. Jika rakyat percaya Dia adalah Allah, Dia bisa punya kekuasaan luar biasa besar. (Itulah sebab banyak pemimpin jaman dulu, seperti Kaisar, mengklaim punya asal usul ilahi.) Jawaban atas perjelasan ini adalah Yesus menolak semua upaya untuk mendudukkanNya sebagai penguasa, lebih suka mengecam mereka yang menyalah-gunakan kekuasaan dan hidup untuk mengejar kekuasaan. Dia juga memilih untuk menjangkau orang yang terbuang (pelacur dan penderita lepra), mereka yang tidak punya kekuasaan, menciptakan jaringan dari orang-orang yang pengaruhnya kurang dari nol. Bisa digambarkan sebagai aneh, semua yang Yesus lakukan dan katakan bergerak menjauhi kekuasaan.6 Kelihatannya, jika kekuasaan jadi motivasi Yesus, Dia akan menghindari salib dengan segala cara. Namun, dalam beberapa kesempatan, Dia mengatakan kepada para muridNya bahwa salib adalah tujuan dan misinya. Bagaimana kematian di salib Romawi bisa memberikan kekuasaan kepada orang itu? Kematian, tentu saja, membawa segalanya memasuki fokus yang tepat. Banyak orang martir mati karena perjuangan yang mereka percayai, tapi hanya sedikit orang mau mati untuk kebohongan yang sudah diketahui. Tentunya seluruh harapan Yesus untuk memperoleh keuntungan pribadi akan lenyap di kayu salib. Tapi, sampai pada napas terakhirnya, Dia tidak pernah mencabut klaimNya sebagai Anak Allah. Yesus menggunakan istilah "Anak Manusia" dan "Anak Allah" untuk mengidentifikasi sifat dasar sebagai manusia dan Allah. (Lihat “Apakah Yesus Mengklaim diriNya adalah Allah?”).
Warisan
Jadi jika Yesus berbohong bukan untuk keuntungan pribadi, mungkin klaim radikalnya dipalsukan untuk meninggalkan sebuah warisan. Tapi prospek dipukuli hancur-hancuran dan dipaku di salib dengan cepat akan menyurutkan siapapun, yang paling antusias, untuk jadi bintang super masa depan. Ada fakta lain, yang sering timbul. Jika Yesus mencabut saja klaim sebagai Anak Allah, Dia tidak akan di salib (hukum). Karena klaimNya sebagai Allah dan ketidak-sediaan untuk mencabutnya, yang membawanya ke salib. Jika meneliti reputasi kredibilitas dan historis mengenai apa yang memotivasi Yesus untuk berbohong, seseorang harus menjelaskan bagaimana seorang tukang kayu dari desa miskin Yudea bisa mengantisipasi kejadian-kejadian yang akan mengangkat namanya jadi terkemuka di dunia. Bagaimana Dia tahu pesan-pesanNya akan bertahan (ada terus sampai sekarang)? Murid-murid Yesus sudah lari dan Patrus menyangkal Dia. Ini semua bukanlah sebuah formula untuk menanamkan warisan religius. Apakah para sejarahwan percaya Yesus berbohong? Para ahli telah menyidik kalimat-kalimat Yesus dan kehidupanNya untuk melihat apakah ada bukti kejanggalan pada karakter moralNya. Pada kenyataannya, bahkan yang paling skeptispun kaget oleh kemurnian moral dan etika Yesus. Salah satu, skeptis dan antagonis, John Stuart Mill (1806 - 73), filsuf. Mill menulis mengenai Yesus, "Tentang kehidupan dan perkataan Yesus ada tanda orsinilitas personal dikombinasikan dengan kedalaman pengertian di tingkat pertama manusia yang jenius tertinggi yang spesies kita bisa utarakan. Pada saat jenius terbesar (terhebat tak ada yang melebihi) dikombinasi dengan kualitas yang mungkin reformer moral terbesar dan martir untuk misinya itu yang pernah hidup di bumi, agama tidak bias dikatakan melakukan pilihan salah dalam memilih orang ini sebagai wakil ideal dan panduan bagi kemanusiaan.”[8] Menurut sejarahwan Philip Schaff, tidak ada bukti, dalam sejarah gereja atau sekuler, yang mencatat Yesus berbohong atas apapun. Schaff berargumen, Bagaimana, atas nama logika, masuk akal, dan pengalaman, seorang penipu, egois, telah menciptakan dan secara konsisten dari mulai sampai akhir, dikenal sebagai karakter paling mulia dan murni dalam sejarah dengan aroma kebenaran sempurna dan realitas?"[9] 7 Untuk tetap pada pilihan kebohongan, tampak seperti berenang melawan arus atas apa yang diajarkan, dihidupi sampai mati, oleh Yesus. Bagi sebagian besar ahli, itu tidak masuk akal. Kendati begitu, untuk menolak klaim Yesus, seseorang harus mengajukan penjelasan. Dan jika klaim Yesus tidak benar dan Dia tidak berbohong, satu-satunya pilihan tersisa adalah Dia membohongi diriNya sendiri.
Apa Yesus Gila?
Albert Schweitzer, penerima Nobel Prize 1952, karena upaya-upaya kemanusiannya, punya pandangan sendiri tentang Yesus. Schweitzer menyimpulkan bahwa kegilaan ada dibelakang klaim Yesus bahwa Dia adalah Allah. Dalam kata lain, Yesus salah atas klaimNya tapi tidak secara sengaja berbohong. Menurut teori ini, Yesus disesatkan sedemikian rupa hingga Dia percaya Dialah Mesias. C. S. Lewis mempertimbangkan pilihan ini dengan hati-hati. Lewis mendeduktif klaim Yesus --- seakan-akan tidak benar. Dia mengatakan seseorang yang mengklaim sebagai Allah tidak mungkin jadi guru agung moralitas. "Dia orang gila --- ditingkatan orang yang mengaku dia adalah telur rebus --- atau dia bisa saja Setan dari Neraka."[10] Bahkan mereka yang paling skeptis terhadap KeKristenan sangat jarang mempertanyakan kesadaran Yesus. Reformis sosial William Channing (1780–1842), mengaku bukan orang Kristen, melakukan pengamatan terhadap Yesus,"Tuduhan secara berlebihan, secara antusias membohongi-diri adalah yang paling akhir bisa dikatakan tentang Yesus." Dimana kita bias temukan jejak itu dalam sejarah? Apakah kita bisa mendeteksinya dalam pemikiranNya? persepsiNya[11] Meski kehidupannya dipenuhi oleh imoralitas dan skeptisme personal, filsuf terkemuka Perancis, Jean-Jacques Rousseau (1712 -78) mengakui superioritas karakter dan pemikiran Yesus. “Ketika Plato menggambarkan manusia kebenaran, imajinasinya, dipenuhi oleh hukuman akan kesalahan, tetapi tetap berhak atas ganjaran keutamaan (kebijaksanaan) tertinggi, dia dengan tepat menggambarkan karakter Kristus. … Pemikiran yang luar biasa.… Ya, jika kehidupan dan kematian Socrates adalah filsuf, kehidupan dan kematian Yesus Kristus adalah Allah.”[12] Schaff melontarkan pertanyaan yang harus kita tanyakan kepada diri kita sendiri, " Apa ada kepintaran pada tingkat itu --- sepenuhnya sehat dan bersemangat, selalu siap dan selalu percaya diri --- menyerahkan diri secara radikal dan sangat serius kepada khayalan berkaitan dengan karakter dan misinya sendiri?[13] Jadi, apakah Yesus seorang pembohong, gila, atau Dia adalah Anak Allah? Dapatkah Jefferson benar ketika menjuluki Yesus "hanya guru moral yang bagus" dan pada saat yang sama menolak Ke-Tuhan-anNya? Menariknya, para pendengar Yesus --- mereka yang percaya dan musuh-musuhNya --- tidak pernah memandang Dia hanya sebagai guru moral. Yesus menghasilkan tiga dampak utama bagi orang yang bertemu denganNya: kebencian, ketakutan, atau penyembahan (pemujaan). Dan sekarang, 2000 tahun kemudian, Yesus masih tetap pribadi yang membelah dunia kita. Bukan moral, etika, atau warisanNya yang membakar gairah. Pesan yang dibawa Yesus kepada dunia adalah Allah menciptakan kita dengan tujuan dan tujuan itu ada pada AnakNya. Klaim Yesus Kristus memaksa kita untuk memilih. Seperti dikatakan Lewis, kita tidak bisa mengkategorikan Yesus hanya sebagai pemimpin besar agama atau guru moral yang baik. Mantan pengajar Oxford dan skeptis menantang kita mengambil keputusan sendiri mengenai Yesus, 8 "Anda harus mengambil keputusan sendiri. Apa orang ini adalah Anak Allah atau orang gila atau yang lebih buruk lagi. Anda bisa menyebutNya bodoh, anda meludahiNya dan membunuhNya sebagai setan atau anda bisa jatuh didepan kakiNya dan memanggilNya Tuhan dan Allah. Tetapi kita tidak bisa menyatakan hal yang tidak masuk akal dengan menyebutnya sebagai guru yang agung dan manusia. Dia tidak menyediakan (pandangan itu) terbuka untuk kita. Dia tidak menghendakinya."[14] Dalam tulisan "Kekristenan Biasa", Lewis menjelaskan kenapa dia menyimpulkan Yesus Kristus persis sama dengan klaimNya. Dia secara hati-hati meneliti kehidupan dan perkataan Yesus dan membawa penulis jenius ini membuang ateismenya dan jadi orang Kristen yang sungguh-sungguh. Apakah Yesus Benar-Benar Bangkit Dari Kematian?
Pertanyaan terbesar masa kini adalah, "Siapa sebenarnya Yesus Kristus? Apakah dia hanya seorang luar biasa, atau dia ALLAH dalam daging, seperti dipercayai oleh para muridNya Paulus, Johannes, dan yang lainnya. (Lihat “Apakah Para Rasul Percayay Yesus adalah Allah?”)Para saksi mata, bagi Yesus Kristus, berbicara dan bertindak sepertinya mereka percaya Diabangkit secara fisik dari kematian setelah penyalibannya. Jika mereka salah makaKeKristenan didirikan diatas kebohongan. Tapi jika mereka benar, mujizat seperti itu secaramemperkuat semua yang Yesus katakan mengenai ALLAH, diriNya, dan kita. Tapi apakah kita percaya pada kebangkitan Yesus hanya dengan iman saja, tapi apakah adabukti historis yang kuat? Beberapa ahli skeptis mulai meneliti catatan historis untukmembuktikan bahwa catatan kebangkitan itu salah. Apa yang mereka temukan?


Klik disini untuk melihat bukti dari klaim fantastis yang pernah dilakukan --- kebangkitan

Yesus Kristus!

Apa Yang Yesus Katakan Setelah Kita Mati?

Jika Yesus benar-benar bangkit dari kematian, maka Dia seharusnya tahu ada apa setelah

kematian itu. Apa yang Yesus katakan mengenai arti kehidupan dan masa depan kita?

Apakah ada banyak jalan ke ALLAH atau klaim hanya Yesus satu-satunya jalan? Baca dan

mulai menjawab "Kenapa Yesus?"

Klik disini untuk membaca "Kenapa Yesus?" dan temukan apa yang Yesus katakan

mengenai kehidupan setelah kematian.

Bisakah Yesus Memberi Arti Pada Kehidupan?

"Kenapa Yesus?" meneliti pertanyaan Yesus relevan atau tidak sekarang ini. Bisakah Yesus

menjawab pertanyaan besar kehidupan, "Siapa saya!?" "Kenapa saya disini?" dan, "Kemana

saya pergi?" Penutupan gereja-gereja dan penyaliban telah menuntun sebagian orang percaya

Dia tidak bisa, dan Yesus telah meninggalkan kita untuk menghadapi dunia yang tidak bisa

dikontrol. Tapi Yesus telah membuat pernyataan mengenai kehidupan dan tujuan kita ada

9

disini di dunia, yang perlu diteliti sebelum kita menyebutnya sebagai tidak peduli atau tidak

mampu. Artikel ini meneliti misteri kenapa Yesus datang di dunia.

Klik disini untuk menemukan bagaimana Yesus bisa memberi arti kehidupan.

ENDNOTES

1. Quoted in Robert Elsberg, ed., A Critique of Ghandi on Christianity (New York: Orbis

Books, 1991), 26 & 27.

2. Joseph Klausner, Jesus of Nazareth (New York: The Macmillan Co., 1946), 43, 44.

Sejarah Terbentuknya Kitab suci

HOME

1. Sejarah Terbentuknya Kitab-kitab Perjanjian Lama

Alkitab Gereja Katolik terdiri dari 73 kitab, yaitu Perjanjian Lama terdiri dari 46 kitab sedangkan Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab.
Bagaimanakah sejarahnya sehingga Alkitab terdiri dari 73 kitab, tidak lebih dan tidak kurang ?

Pertama, kita akan mengupas kitab-kitab Perjanjian Lama yang dibagi dalam tiga bagian utama :
Hukum-hukum Taurat,
Kitab nabi-nabi, dan
Naskah-naskah.


Lima buku pertama : Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamat dan Kitab Bilangan dan Kitab Ulangan adalah intisari dan cikal-bakal seluruh kitab-kitab Perjanjian Lama. Pada suatu ketika dalam sejarah, ini adalah Kitab Suci yang dikenal oleh orang-orang Yahudi dan disebut Kitab Taurat atau Pentateuch.

Selama lebih dari 2000 tahun, nabi Musa dianggap sebagai penulis dari Kitab Taurat, oleh karena itu kitab ini sering disebut Kitab Nabi Musa dan sepanjang Alkitab ada referensi kepada "Hukum Nabi Musa". Tidak ada seorangpun yang dapat memastikan siapa yang menulis Kitab Taurat, tetapi tidak disangkal bahwa nabi Musa memegang peran yang unik dan penting dalam berbagai peristiwa-peristiwa yang terekam dalam kitab-kitab ini. Sebagai orang Katolik, kita percaya bahwa Alkitab adalah hasil inspirasi Ilahi dan karenanya identitas para manusia pengarangnya tidaklah penting.

Nabi Musa menaruh satu set kitab di dalam Tabut Perjanjian (The Ark of The Covenant) kira-kira 3300 tahun yang lalu. Lama kemudian Kitab Para Nabi dan Naskah-naskah ditambahkan kepada Kitab Taurat dan membentuk Kitab-kitab Perjanjian Lama. Kapan tepatnya isi dari Kitab-kitab Perjanjian Lama ditentukan dan dianggap sudah lengkap, tidaklah diketahui secara pasti. Yang jelas, setidaknya sejak lebih dari 100 tahun sebelum kelahiran Kristus, Kitab-kitab Perjanjian Lama sudah ada seperti umat Katolik mengenalnya sekarang.

Kitab-kitab Perjanjian Lama pada awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani (Hebrew) bagi Israel, umat pilihan Allah. Tetapi setelah orang-orang Yahudi terusir dari tanah Palestina dan akhirnya menetap di berbagai tempat, mereka kehilangan bahasa aslinya dan mulai berbicara dalam bahasa Yunani (Greek) yang pada waktu itu merupakan bahasa internasional. Oleh karena itu menjadi penting kiranya untuk menyediakan bagi mereka, terjemahan seluruh Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani. Pada waktu itu di Alexandria berdiam sejumlah besar orang Yahudi yang berbahasa Yunani. Selama pemerintahan Ptolemius II Philadelphus (285 - 246 SM) proyek penterjemahan dari seluruh Kitab Suci orang Yahudi ke dalam bahasa Yunani dimulai oleh 70 atau 72 ahli-kitab Yahudi - menurut tradisi - 6 orang dipilih mewakili setiap dari 12 suku bangsa Israel. Terjemahan ini diselesaikan sekitar tahun 250 - 125 SM dan disebut Septuagint, yaitu dari kata Latin yang berarti 70 (LXX), sesuai dengan jumlah penterjemah. Kitab ini sangat populer dan diakui sebagai Kitab Suci resmi (kanon Alexandria) kaum Yahudi yang terusir, yang tinggal di Asia Kecil dan Mesir. Pada waktu itu Ibrani adalah bahasa yang nyaris mati dan orang-orang Yahudi di Palestina umumnya berbicara dalam bahasa Aram. Jadi tidak mengherankan kalau Septuagint adalah terjemahan yang digunakan oleh Yesus, para Rasul dan para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru. Bahkan, 300 kutipan dari Kitab Perjanjian Lama yang ditemukan dalam Kitab Perjanjian Baru adalah berasal dari Septuagint. Harap diingat juga bahwa seluruh Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.

Setelah Yesus disalibkan dan wafat, para pengikut-Nya tidak menjadi punah tetapi malahan menjadi semakin kuat. Pada sekitar tahun 100 Masehi, para rabbi (imam Yahudi) berkumpul di Jamnia, Palestina, mungkin sebagai reaksi terhadap Gereja Katolik.

Dalam konsili Jamnia ini mereka menetapkan empat kriteria untuk menentukan kanon Kitab Suci mereka :
Ditulis dalam bahasa Ibrani;
Sesuai dengan Kitab Taurat;
lebih tua dari jaman Ezra (sekitar 400 SM);
dan ditulis di Palestina.


Atas kriteria-kriteria diatas mereka mengeluarkan kanon baru untuk menolak tujuh buku dari kanon Alexandria, yaitu seperti yang tercantum dalam Septuagint, yaitu: Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh, 1 Makabe, 2 Makabe, berikut tambahan-tambahan dari kitab Ester dan Daniel. (Catatan: Surat Nabi Yeremia dianggap sebagai pasal 6 dari kitab Barukh). Hal ini dilakukan semata-mata atas alasan bahwa mereka tidak dapat menemukan versi Ibrani dari kitab-kitab yang ditolak diatas.

Gereja Katolik tidak mengakui konsili rabbi-rabbi Yahudi ini dan tetap terus menggunakan Septuagint. Pada konsili di Hippo tahun 393 Masehi dan konsili Kartago tahun 397 Masehi, Gereja Katolik secara resmi menetapkan 46 kitab hasil dari kanon Alexandria sebagai kanon bagi Kitab-kitab Perjanjian Lama. Selama enam belas abad, kanon Alexandria diterima secara bulat oleh Gereja. Masing-masing dari tujuh kitab yang ditolak oleh konsili Jamnia, dikutip oleh para Patriarch Gereja (Church Fathers) sebagai kitab-kitab yang setara dengan kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Lama. Church Fathers, beberapa diantaranya disebutkan disini: St. Polycarpus, St. Irenaeus, Paus St. Clement, dan St. Cyprianus adalah para Patriarch Gereja yang hidup pada abad-abad pertama dan tulisan-tulisan mereka - meskipun tidak dimasukkan dalam Perjanjian Baru - menjadi bagian dari Deposit Iman. Tujuh kitab berikut dua tambahan kitab yang ditolak tersebut dikenal oleh Gereja Katolik sebagai Deuterokanonika (= second-listed) yang artinya kira-kira: "disertakan setelah banyak diperdebatkan".

2. Gereja Katolik Mendahului Kitab Perjanjian Baru

Seperti Kitab-kitab Perjanjian Lama, Kitab-kitab Perjanjian Baru juga tidak ditulis oleh satu orang, tetapi adalah hasil karya setidaknya delapan orang. Kitab Perjanjian Baru terdiri dari 4 kitab Injil, 14 surat Rasul Paulus, 2 surat Rasul Petrus, 1 surat Rasul Yakobus, 1 surat Rasul Yudas, 3 surat Rasul Yohanes dan Wahyu Rasul Yohanes dan Kisah Para Rasul yang ditulis oleh Santo Lukas, yang juga menulis Kitab Injil yang ketiga. Sejak kitab Injil yang pertama yang ditulis oleh Santo Matius(1*) sampai kitab Wahyu Yohanes, ada kira-kira memakan waktu 50 tahun. Tuhan Yesus sendiri, sejauh yang kita ketahui, tidak pernah menuliskan satu barispun dari kitab Perjanjian Baru. Dia tidak pernah memerintahkan para Rasul untuk menuliskan apapun yang diajarkan oleh-Nya. Dia berkata: "Maka pergilah dan ajarlah segala bangsa" (Matius 28:19-20), "Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku" (Lukas 10:16).

Apa yang Yesus perintahkan kepada mereka persis sama seperti apa yang Yesus sendiri lakukan: menyampaikan Firman Allah kepada orang-orang melalui kata-kata, meyakinkan, mengajar, dan mentobatkan mereka dengan bertemu muka. Jadi bukan melalui sebuah buku yang mungkin bisa rusak dan hilang, dan disalah tafsirkan dan diubah-ubah isinya, melainkan melalui cara yang lebih aman dan alami dalam menyampaikan firman yaitu dari mulut ke mulut. Demikianlah para Rasul mengajar generasi seterusnya untuk melakukan hal yang serupa setelah mereka meninggal. Oleh karena itu melalui Tradisi seperti inilah Firman Allah disampaikan kepada semua generasi umat Kristen sebagaimana pertama kali diterima oleh para Rasul.

Tidak satu barispun dari kitab-kitab Perjanjian Baru dituliskan sampai setidaknya 10 tahun setelah wafatnya Kristus. Yesus disalibkan pada tahun 33 dan kitab Perjanjian Baru yang pertama ditulis yaitu surat 1 Tesalonika baru ditulis sekitar tahun 50 Masehi. Sedangkan kitab terakhir yang ditulis yaitu kitab Wahyu Yohanes pada sekitar 90-100 Masehi. Jadi anda bisa melihat kesimpulan penting disini : Gereja Katolik dan iman Katolik sudah ada sebelum Alkitab dijadikan. Beribu-ribu orang bertobat menjadi Kristen melalui khotbah para Rasul dan missionaris di berbagai wilayah, dan mereka percaya kepada kebenaran Ilahi seperti kita percaya sekarang, dan bahkan menjadi orang-orang kudus tanpa pernah melihat ataupun membaca satu kalimatpun dari kitab Perjanjian Baru. Ini karena alasan yang sederhana yaitu bahwa pada waktu itu Alkitab seperti yang kita kenal, belum ada. Jadi, bagaimanakah mereka menjadi Kristen tanpa pernah melihat Alkitab? Yaitu dengan cara yang sama orang non-Kristen menjadi Kristen pada masa kini, yaitu dengan mendengar Firman Allah dari mulut para misionaris.

3. Gereja Katolik Menetapkan Kitab Perjanjian Baru

Ke-dua puluh tujuh kitab diterima sebagai Kitab Suci Perjanjian Baru baik oleh umat Katolik maupun Protestan.

Pertanyaannya adalah :
Siapa yang memutuskan kanonisasi Perjanjian Baru sebagai kitab-kitab yang berasal dari inspirasi Ilahi ?
Kita tahu bahwa Alkitab tidak jatuh dari langit, jadi darimana kita tahu bahwa kita bisa percaya kepada setiap kita-kitab tersebut ?


Berbagai uskup membuat daftar kitab-kitab yang diakui sebagai inspirasi Ilahi, diantaranya :
Mileto, uskup Sardis pada tahun 175 Masehi;
Santo Irenaeus, uskup Lyons - Perancis pada tahun 185 Masehi;
Eusebius, uskup Caesarea pada tahun 325 Masehi.

Pada tahun 382 Masehi, didahului oleh Konsili Roma, Paus Damasus menulis dekrit yang menulis daftar kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdiri dari 73 kitab.

Konsili Hippo di Afrika Utara pada tahun 393 menetapkan ke 73 kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Konsili Kartago di Afrika Utara pada tahun 397 menetapkan kanon yang sama untuk Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Catatan: Ini adalah konsili yang dianggap oleh banyak kaum Protestan dan Evangelis Protestan sebagai otoritatif bagi kanonisasi kitab-kitab dalam Perjanjian Baru.

Paus Santo Innocentius I (401-417) pada tahun 405 Masehi menyetujui kanonisasi ke 73 kitab-kitab dalam Alkitab dan menutup kanonisasi Alkitab.

Jadi kanonisasi Alkitab secara resmi diputuskan di abad ke empat oleh konsili-konsili Gereja Katolik dan para Paus. Sebelum kanon Alkitab ditetapkan, ada banyak perdebatan. Ada yang beranggapan bahwa beberapa kitab Perjanjian Baru seperti surat Ibrani, surat Yudas, kitab Wahyu, dan surat 2 Petrus, adalah bukan hasil inspirasi Ilahi. Sementara pihak lain berpendapat bahwa beberapa kitab yang tidak dikanonisasi seperti: Gembala Hermas, Injil Petrus dan Thomas, surat-surat Barnabas dan Clement adalah hasil inspirasi Ilahi. Keputusan resmi Gereja Katolik menyelesaikan hal diatas sampai 1100 tahun kemudian. Hingga jaman Reformasi Protestan, tidak ada lagi perdebatan akan kitab-kitab dalam Alkitab.

Melihat sejarah, Gereja Katolik menggunakan otoritasnya untuk menentukan kitab-kitab yang mana yang termasuk dalam Alkitab dan memastikan bahwa segala yang tertulis dalam Alkitab adalah hasil inspirasi Ilahi. Jika bukan karena Gereja Katolik, maka umat Kristen tidak akan dapat mengetahui yang mana yang benar.

4. Kitab Vulgate - Karya Santo Jerome

Ketika Kabar Gembira telah tersebar luas dan banyak orang menjadi Kristen, merekapun dibekali dengan terjemahan Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa asli mereka yaitu Armenia, Siria, Koptik, Arab dan Ethiopia bagi umat Kristen purba di wilayah-wilayah ini. Bagi umat Kristen di Afrika dimana bahasa Latin paling luas digunakan, ada terjemahan kedalam bahasa Latin yang dibuat sekitar tahun 150 Masehi dan juga terjemahan berikutnya bagi umat di Italia.

Akan tetapi semua ini akhirnya digantikan oleh mahakarya yang dibuat oleh Santo Jerome dalam bahasa Latin yang disebut "Vulgate" pada abad ke-empat.

Pada masa itu ada kebutuhan besar akan Kitab Suci dan ada bahaya karena banyaknya variasi terjemahan yang ada. Oleh karena itu sang biarawan, yang mungkin pada waktu itu adalah orang yang paling terpelajar, atas perintah Paus Santo Damascus pada tahun 382, membuat terjemahan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Latin dan mengkoreksi versi-versi yang ada dalam bahasa Yunani. Lantas di Bethlehem antara tahun 392-404, dia juga menterjemahkan Kitab-kitab Perjanjian Lama langsung dari bahasa Ibrani (jadi bukan dari Septuagint) kedalam bahasa Latin, kecuali kitab Mazmur yang direvisi dari versi Latin yang sudah ada.

Ini adalah Alkitab lengkap yang diakui resmi oleh Gereja Katolik, yang nilainya tak terukur menurut para ahli alkitab masa kini, dan terus mempengaruhi versi-versi lainnya sampai pada jaman Reformasi Protestan. Dari Vulgate inilah dihasilkan terjemahan dalam bahasa Inggris yang terkenal yaitu Douai-Rheims Bible.

5. Hilangnya Kitab-kitab Asli

Hingga ditemukannya mesin cetak pada tahun 1450, semua Alkitab adalah hasil salinan tangan yang kita sebut manuskrip. Alkitab lengkap tertua yang masih ada hingga sekarang berasal dari abad ke-empat, dan isinya sama dengan Alkitab yang dipegang oleh umat Katolik yaitu terdiri dari 73 kitab. Apa yang terjadi dengan manuskrip-manuskrip asli yang ditulis oleh para penulis kitab Injil? Ada beberapa alasan akan hilangnya kitab - kitab asli tersebut :

Beberapa ratus tahun pertama adalah masa-masa penganiayaan terhadap umat Kristen. Para penguasa yang menindas Gereja Katolik menghancurkan segala hal yang menyangkut Kristenitas yang bisa mereka temukan. Selanjutnya, kaum pagan (non-Kristen) juga secara berulang-ulang menyerang kota-kota dan perkampungan Kristen dan membakar dan menghancurkan gereja dan segala benda-benda religius yang dapat mereka temukan disana. Lebih jauh lagi, mereka bahkan memaksa umat Kristen untuk menyerahkan kitab-kitab suci dibawah ancaman nyawa, lantas membakar kitab-kitab tersebut.

Alasan lainnya : media yang dipakai untuk menuliskan ayat-ayat Alkitab, disebut papirus - sangat mudah hancur dan tidak tahan lama, sedangkan perkamen, yang terbuat dari kulit binatang dan lebih tahan lama, sulit didapat. Kedua materi inilah yang dimaksud dalam 2 Yohanes 1:12 dan 2 Timotius 4:13. Umat Kristen purba, setelah membuat salinan Alkitab, juga tidak terlalu peduli untuk menjaga kitab aslinya. Mereka tidak beranggapan penting untuk memelihara tulisan-tulisan asli oleh Santo Paulus atau Santo Matius oleh karena mereka percaya penuh kepada Gereja Katolik yang mengajarkan lewat Tradisi melalui mulut para Paus dan para uskup-uskupnya. Umat Katolik tidak melandaskan ajaran-ajarannya pada Alkitab semata-mata, tetapi juga kepada Tradisi yang hidup, dari Gereja Katolik yang infallible. ubi Ecclesia, ibi Christus.

6. Alkitab pada Abad Pertengahan

Segenap umat Kristen berhutang budi kepada para kaum religius, imam, biarawan dan biarawati yang menyalin, memperbanyak, memelihara dan menyebarluaskan Alkitab selama berabad-abad. Para biarawan adalah kaum yang paling terpelajar pada jamannya dan salah satu kegiatan utama mereka adalah menyalin isi Alkitab sedangkan biara-biara menjadi pusat penyimpanan naskah-naskah Alkitab ini. Umumnya masing-masing biara-biara di abad pertengahan memiliki perpustakaan tersendiri. Tidak kurang dari para raja dan kaum bangsawan dan orang-orang terkenal meminjam dari biara-biara ini. Para raja dan kaum bangsawan itu sendiri, bersama para Paus, uskup dan kepala-kepala biara, sering menghadiahkan Kitab Suci yang diberi hiasan yang indah kepada biara-biara dan gereja-gereja di seluruh Eropa.

Untuk menyalin satu Alkitab lengkap, diperlukan sekurangnya 10 bulan tenaga kerja dan sejumlah besar perkamen yang mahal harganya untuk memuat lebih dari 35000 ayat-ayat dalam Alkitab. Hal ini menjelaskan mengapa banyak orang biasa tidak mampu memiliki setidaknya satu set Alkitab lengkap di rumah-rumah mereka. Mereka biasanya memiliki salinan dari sejumlah pasal dalam Alkitab yang populer. Jadi kebiasaan memiliki bagian-bagian dari Alkitab yang terpisah adalah kebiasaan yang sepenuhnya Katolik dan yang hingga kini masih dilakukan.

Alkitab pada abad pertengahan umumnya ditulis dalam bahasa Latin. Hal ini dilakukan sama sekali bukan dimaksudkan untuk menyulitkan umat yang ingin membacanya. Kebanyakan orang pada masa itu tidak mampu membaca, sedangkan mereka yang mampu membaca, juga dapat mengerti bahasa Latin. Latin adalah bahasa universal pada waktu itu. Mereka yang mampu membaca lebih menyukai membaca Vulgate, versi Latin dari Alkitab. Oleh karena kenyataan tersebut, tidak ada alasan kuat untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa setempat secara besar-besaran. Namun meski demikian harap diingat bahwa sepanjang sejarah Gereja Katolik tetap menyediakan terjemahan Alkitab dalam bahasa-bahasa setempat.

7. Martin Luther dan Alkitab Protestan

Pada tahun 1529, Martin Luther mengajukan kanon Palestina yang menetapkan 39 kitab dalam bahasa Ibrani sebagai kanon Perjanjian Lama. Luther mencari pembenaran dari keputusan konsili Jamnia (yang adalah konsili imam Yahudi, jadi bukan sebuah konsili Gereja Kristen!) bahwa tujuh kitab yang dikeluarkan dari Perjanjian Lama tidak memiliki kitab-kitab aslinya dalam bahasa Ibrani. Luther melakukan hal tersebut sebenarnya karena sejumlah ayat-ayat yang terdapat pada kitab-kitab tersebut justru mengokohkan doktrin-doktrin Gereja Katolik dan bertentangan dengan doktrin-doktrin baru yang dikembangkan oleh Martin Luther sendiri.

Oleh karena alasan yang serupa, Martin Luther juga nyaris membuang beberapa kitab-kitab lainnya: surat Yakobus, surat Ibrani, kitab Ester dan kitab Wahyu. Hanya karena bujukan kuat oleh para pendukung kaum reformasi Protestan yang lebih konservatif maka kitab-kitab diatas tetap dipertahankan dalam Alkitab kaum Protestan. Namun demikian, tidak kurang Martin Luther menghujat bahwa surat Yakobus tidak pantas dimasukkan dalam Alkitab.

Untuk mendukung salah satu doktrinnya yang terkenal yaitu Sola Fide (bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman saja), dalam Alkitab terjemahan bahasa Jerman, Martin Luther menambahkan kata 'saja' pada surat Roma 3:28. Sehingga ayat tersebut berbunyi: "Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman saja, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat". Tidak heran kalau Martin Luther menghujat surat Rasul Yakobus dan berusaha untuk membuangnya dari Perjanjian Baru, karena justru dalam surat Yakobus ada banyak ayat yang menjatuhkan doktrin Sola Fide yang diciptakan oleh Martin Luther tersebut. Antara lain, dalam Yakobus 2:14-15 tertulis: "Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?" dan Yakobus 2:17 "Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati" dan Yakobus 2:24 "Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman."

Pertanyaannya sekarang adalah: Kitab Perjanjian Lama manakah yang lebih baik anda baca? Kitab Perjanjian Lama yang digunakan oleh Yesus, para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru dan Gereja purba? Atau Kitab Perjanjian Lama yang ditetapkan oleh imam-imam Yahudi yang menolak Yesus Kristus dan menindas umat Kristen purba ?

8. Alkitab Gereja Katolik

Bahkan sebelum pecahnya Reformasi Protestan, ada banyak versi-versi Alkitab yang beredar pada masa itu. Banyak diantaranya mengandung kesalahan-kesalahan yang disengaja - seperti dalam kasus-kasus kaum heretic, pembangkang gereja yang berusaha mendukung doktrin-doktrin yang mereka ciptakan sendiri, dengan menuliskan Alkitab yang sudah diganti-ganti isinya. Ada juga kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja oleh karena faktor human error, mengingat pekerjaan menyalin Alkitab dilakukan dengan tulisan tangan, ayat demi ayat, yang sangat memakan waktu dan tenaga.

Oleh karena itu pada Konsili di Florence pada abad ke lima belas, Gereja Katolik menguatkan keputusan yang dibuat pada konsili-konsili sebelumnya mengenai kitab-kitab yang ada dalam Alkitab.

Setelah meletusnya Reformasi Protestan, pada Konsili Trente oleh Gereja Katolik pada tahun 1546 dikeluarkanlah dekrit yang mensahkan Vulgate, versi Latin dari Alkitab sebagai satu-satunya versi yang diakui dan sah yang diperbolehkan kepada umat Katolik. Alkitab ini direvisi oleh Paus Sixtus V pada tahun 1590 dan juga oleh Paus Clement VIII pada tahun 1593.

Selanjutnya pada konsili Vatikan I, kembali Gereja Katolik menegaskan keputusan konsili-konsili sebelumnya tentang Alkitab.

Oleh karena itu di akhir tulisan ini, kita dapat membuat kesimpulan-kesimpulan penting:

Berdasarkan sejarah, Alkitab adalah sebuah kitab Katolik. Perjanjian Baru ditulis, disalin dan dikoleksi oleh umat Kristen Katolik. Kanon resmi dari kitab-kitab yang membentuk Alkitab - Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru - ditentukan secara penuh kuasa oleh Gereja Katolik pada abad ke empat. Oleh karena itu, dari Gereja Katolik-lah kaum Protestan bisa memiliki Alkitab.

Menuruti akal sehat dan logika, Gereja Katolik yang memiliki kekuasaan untuk menentukan Firman Allah yang infallible - bebas dari kesalahan -, pasti juga memiliki otoritas yang infallible - bebas dari kesalahan - dan juga bimbingan dari Roh Kudus. Seperti telah anda lihat, terlepas dari deklarasi oleh Gereja Katolik, kita sama sekali tidak memiliki jaminan bahwa apa yang tertulis dalam Alkitab adalah Firman Allah yang asli. Jika anda percaya kepada isi Alkitab maka anda juga harus percaya kepada otoritas Gereja Katolik yang menjamin keaslian Alkitab. Sangat kontradiktif bagi kaum Protestan untuk menerima Alkitab tetapi menolak otoritas Gereja Katolik. Logikanya, kaum Protestan mestinya tidak mengutip isi Alkitab sama sekali, karena mereka tidak memiliki pegangan untuk menentukan kitab-kitab mana saja yang asli, kecuali tentunya kalau mereka menerima kuasa pengajaran dari Gereja Katolik.

9. Tanya - Jawab
a) Pertanyaan : Mengapa Alkitab umat Katolik terdiri dari 73 kitab sedangkan Alkitab umat Protestan terdiri dari 66 kitab ?
Jawaban : Gereja Katolik melandaskan Perjanjian Lama pada Kanon Alexandria - lebih dari satu abad sebelum kelahiran Yesus Kristus - yang menetapkan 43 kitab yang disebut Septuagint sebagai kitab-kitab Perjanjian Lama. Kaum Protestan melandaskan Perjanjian Lama pada Kanon Palestina yang diadakan oleh imam-imam Yahudi untuk memerangi umat Kristen, sekitar tahun 100 Masehi. Perlu ditegaskan disini bahwa baik Yesus maupun para murid-muridNya menggunakan Septuagint yaitu berdasarkan Kanon Alexandria. Pertanyaannya sekarang adalah: Tidakkah anda sebagai umat Kristen, mestinya memakai Kitab Perjanjian Lama yang dipergunakan oleh Yesus dan para murid-muridNya, dan bukan malahan menggunakan versi Perjanjian Lama yang ditetapkan oleh para imam Yahudi yang justru menindas umat Kristen ?

b) Pertanyaan : Benarkah bahwa Gereja Katolik pernah melarang umat Kristen untuk membaca Alkitab dan apakah benar bahwa atas berkat jasa Martin Luther maka umat Katolik sekarang boleh membaca Alkitab ?
Jawaban : Satu-satunya kejadian yang menyangkut larangan kaum awam membaca/memiliki Alkitab dikeluarkan hanya oleh beberapa uskup di Perancis pada abad ke 13 untuk memerangi kaum pembangkang Albigensian di Perancis. Larangan itu dihapuskan 40 tahun kemudian setelah pembangkangan selesai. Jadi Gereja Katolik tidak pernah mengeluarkan larangan umatnya membaca Alkitab sepanjang sejarah. Apalagi anggapan bahwa Martin Luther memiliki jasa apapun atas Gereja Katolik. Ada dongeng yang beredar dikalangan umat Protestan yang mengisahkan bahwa Martin Luther-lah yang "menemukan" Alkitab. Tapi kalau anda membaca buku-buku sejarah gereja yang berbobot, maka anda akan menemukan bahwa justru Martin Luther-lah yang bertanggung jawab menghapuskan kitab-kitab Deuterokanonika dari Perjanjian Lama, dan bahkan nyaris menghapuskan lebih banyak lagi kitab-kitab dari dalam Alkitab. Dia melakukan semua itu demi untuk mendukung doktrin-doktrin yang diciptakannya sendiri yang hingga kini masih menjadi doktrin-doktrin Protestan.

c) Pertanyaan : Benarkah bahwa Gereja Katolik mempersulit umat Kristen untuk membaca Alkitab dengan hanya menyediakan terjemahan dalam bahasa Latin ?
Jawaban : Pada waktu itu, orang yang mampu membaca, juga mampu membaca Latin. Karena Latin adalah bahasa internasional pada jaman itu. Lebih jauh lagi, Vulgate, versi Latin dari Alkitab hasil karya Santo Jerome amat digemari oleh umat Kristen. Jadi tidak ada kebutuhan yang mendesak untuk menyediakan Alkitab dalam berbagai bahasa. Namun demikian ada juga versi-versi terjemahan dalam bahasa-bahasa setempat.

d) Pertanyaan : Benarkah bahwa Gereja Katolik pernah membakar Alkitab ?

Jawaban : Selama berabad-abad Gereja dilanda oleh berbagai pembangkangan (heresy). Para pembangkang ini menggunakan Alkitab yang sudah diselewengkan isinya untuk mendukung doktrin-doktrin mereka sendiri. Gereja Katolik sebagai penjaga keaslian Alkitab juga memiliki hak dan kuasa untuk memastikan bahwa umat Kristen memiliki Alkitab yang isinya tidak dikorupsi demi kepentingan sekelompok orang. Oleh karena itu otoritas Gereja Katolik memusnahkan alkitab-alkitab yang isinya penuh kesalahan ini dan menggantinya dengan Alkitab yang murni isinya. Martin Luther bukan satu-satunya orang yang pernah mengkorupsi isi Alkitab.

e) Pertanyaan : Jika penggunaan Alkitab meluas pada abad-abad pertengahan, mengapa hanya sedikit kitab-kitab kuno ini yang tertinggal ?
Jawaban : Ada beberapa alasan. Pertama, ada banyak terjadi peperangan sehingga banyak manuskrip-manuskrip kuno ini ikut musnah. Kedua, media yang dipergunakan mudah rusak dan tidak tahan lama. Ketiga, pengrusakan besar-besaran yang dilakukan dengan sengaja seperti pada masa reformasi Protestan. Kaum pendukung reformasi Protestan menghancurkan segala hal yang berbau Katolik. Gereja-gereja, biara-biara, tempat-tempat ziarah beserta penghuni dan semua isinya yang bernilai tinggi menjadi korban pergolakan yang dicetuskan oleh kaum pendukung reformasi.

f) Pertanyaan : Mengapa kitab-kitab yang ditolak dari Perjanjian Lama oleh imam-imam Yahudi itu disebut sebagai Deuterokanonika ?
Jawaban : Deuterokanonika artinya kira-kira: "disertakan setelah diperdebatkan". Santo Jerome sendiri pernah mengutarakan kekhawatirannya akan keaslian kitab-kitab tersebut. Akan tetapi keputusan konsili-konsili Gereja Katolik dan para Paus menghentikan perdebatan dan menghapus kekhawatiran para ahli teologi pada masa itu. Tidak kurang dari Santo Agustinus sendiri - salah satu doktor Gereja - yang mengatakan begini: "Aku tidak akan meletakkan imanku pada kitab Injil, jika bukan karena otoritas Gereja Katolik yang mengarahkan aku untuk berbuat demikian." Bahwa keputusan Gereja Katolik untuk tetap mempertahankan kitab-kitab Deuterokanonika dan mengabaikan Kanon Palestina, menunjukkan bimbingan Roh Kudus yang membawa kepada segala kebenaran (Yohanes 16:13). Ketika Gulungan-gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls) ditemukan di Qumran, tepi barat sungai Yordan pada abad ke-20 ini, diantaranya terdapat sebagian salinan-salinan asli dalam bahasa Ibrani atas kitab-kitab Deuterokanonika yang pada abad-abad pertama diperdebatkan tersebut.

g) Pertanyaan : Mengapa disebutkan bahwa Deuterokanonika terdiri dari tujuh kitab sedangkan dalam Alkitab bahasa Indonesia yang saya miliki ada sepuluh bagian dalam Deuterokanonika ?
Jawaban : Tujuh kitab-kitab tersebut adalah Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Yesus bin Sirakh, Barukh, 1 Makabe dan 2 Makabe. Tambahan-tambahan pada kitab Ester dan Daniel tentunya dimasukkan kedalam kitab-kitab yang bersangkutan sedangkan Surat Nabi Yeremia dimasukkan sebagai pasal 6 dari kitab Barukh. Dalam Alkitab bahasa Indonesia terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, kitab-kitab Deuterokanonika diletakkan pada posisi yang aneh dan tidak sesuai urutan, ini untuk memudahkan penerbit yang sama menerbitkan Alkitab versi Protestan, yaitu tanpa Deuterokanonika. Jika anda membeli Alkitab dalam bahasa Inggris seperti di Amerika contohnya, kitab-kitab Deuterokanonika dimasukkan dalam urutannya yang alami. Perlu juga disebutkan disini bahwa versi-versi Alkitab kaum Protestan pada awalnya - seperti versi asli King James Bible - masih memiliki Deuterokanonika di dalamnya.

h) Pertanyaan : Ada berapakah versi Alkitab dalam bahasa Inggris ?
Jawaban : Dalam bahasa Inggris, ada beberapa versi Alkitab baik bagi umat Katolik maupun Protestan. Bagi umat Katolik ada versi RSVCE (Revised Standard Version Catholic Edition) yang direkomendasikan oleh Vatikan. Ada NAB (New American Bible) yaitu yang merupakan Alkitab resmi bagi umat Katolik di Amerika Serikat. Ada juga NJB (New Jerusalem Bible) yaitu Alkitab yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani dan dipakai oleh sebagian kalangan Gereja Katolik dari ritus-ritus Timur. RSVCE adalah versi yang paling serupa dengan bahasa asli kitab suci karena merupakan terjemahan kata demi kata. Sedangkan NAB dan NJB serta beberapa versi lainnya merupakan terjemahan yang sudah disesuaikan dengan pemakaian bahasa Inggris pada masa kini, jadi penekanan pada segi arti dari kata-kata/kalimat yang dipakai pada bahasa asli kitab suci. Umat Katolik sebaiknya menghindari berbagai versi Alkitab Protestan, diantaranya: RSV (Revised Standard Version), KJV (King James Version), NIV (New International Version), Tyndale Bible dan Zonderfan Bible. Untuk mengenalinya mudah saja, tidak satupun diantaranya mempunyai kitab-kitab Deuterokanonika. Sebetulnya ada juga diantaranya yang menyertakan kitab-kitab Deuterokanonika, yaitu yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit sekuler seperti Oxford dan lain-lain. Namun mereka menyebut Deuterokanonika dengan sebutan Apocripha. Jadi anda tahu membedakan yang mana Alkitab Katolik dan yang mana Alkitab Protestan. Alkitab-alkitab Katolik juga memiliki Imprimatur dan Nihil-Obstat yang dapat anda temukan pada bagian muka dari Alkitab tersebut. Ini praktisnya adalah tanda bahwa buku yang bersangkutan telah diperiksa oleh hirarki Gereja Katolik, apakah itu imam ataupun uskup. Penulis merekomendasikan anda untuk mendapatkan Alkitab NAB terbitan Oxford yang merupakan study-bible, lengkap dengan penjelasan-penjelasan akan sejarah PL dan PB, berikut penjelasan akan ayat-ayat, kata-kata dan perumpamaan-perumpamaan yang ada dalam Alkitab. Penulis juga merekomendasikan Alkitab RSVCE yang dikenal dengan sebutan Ignatius Bible sebagai back-up. Harga Alkitab NAB terbitan Oxford US untuk soft-cover sedangkan RSVCE Ignatius Bible harganya US untuk soft-cover.

i) Pertanyaan : Ada sementara kalangan Islam yang percaya bahwa di dalam Alkitab umat Kristiani telah terjadi salah terjemahan yang sangat fatal: yaitu kata "Lord" dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai "Tuhan" dalam bahasa Indonesia, padahal kamus Inggris-Indonesia menyebutkan bahwa kata "lord" mestinya diterjemahkan sebagai "tuan", bukan "Tuhan". Dengan demikian hal ini mendukung teori agama mereka yang mengatakan bahwa Yesus jelas bukan Tuhan dan sekedar manusia biasa.
Jawaban : Pertama-tama perlu ditegaskan disini, bahwa Alkitab bahasa Indonesia tidaklah diterjemahkan dari Alkitab bahasa Inggris. Lihatlah pada bagian awal Alkitab dimana tertulis bahwa "Teks Perjanjian Lama diterjemahkan dari Bahasa Ibrani. Teks Perjanjian Baru diterjemahkan dari Bahasa Yunani. Teks Deuterokanonika diterjemahkan dari Bahasa Yunani". Kedua, perlu diketahui bagi orang Indonesia yang jelas bukan native English speaker - bahwa kata "Lord" dalam Alkitab berarti "God" atau "Tuhan". Kata "Lord" bukan hanya digunakan pada Yesus, tetapi juga pada Allah Bapa dalam ayat-ayat Perjanjian Lama.

10. Catatan
(1*) Injil Matius dipercaya selama ini sebagai Injil yang pertama ditulis dan ditulis oleh Santo Matius, salah satu dari ke-12 rasul.
Akan tetapi hasil penelitian ahli alkitab menunjukkan persamaan nara-sumber antara Injil Matius dan Injil Markus.
Pertanyaannya adalah, mengapa Rasul St. Matius harus mengutip dari sumber Injil Markus mengingat dia adalah orang yang mengenal Yesus secara pribadi. Sementara banyak persamaan dengan Injil Matius, Injil Markus - yang terpendek diantara keempat Injil - menceritakan kisah-kisah Yesus dengan kata-kata yang lebih mendetail. Oleh karena itu dipercaya bahwa Injil Markus adalah yang pertama ditulis dan bahwa Santo Matius penulis Injil bukanlah Rasul Matius, melainkan umat Kristen generasi kedua, sama seperti Santo Markus sendiri yang namanya sering muncul dalam surat-surat Santo Paulus maupun Santo Petrus, dikenal juga sebagai Yohanes Markus.


Penulis : Jeffry Komala

Nara sumber :
Where We Got The Bible: Our Debt to the Catholic Church, 22nd edition, by The Right Rev. Henry G. Graham, published by Tan Books & Publishers, Inc.;
Beginning Apologetics 1: How to Explain and Defend The Catholic Faith, by Father Frank Chacon and Jim Burnham, published by San Juan Catholic Seminars;
The Catholic Bible (NAB): Personal Study Edition, published by Oxford University Press;
Berbagai situs web Katolik di Internet.

Rekomendasi bacaan : A History of Christendom (3 volumes), by Warren H. Carroll.


http://sejarah.sabda.org/artikel/

'Maria Diangkat ke Surga' dan Maria disebut sebagai 'Tabut Perjanjian Baru'

"Apa yang bisa saya jelaskan kepada orang yang bertanya tentang 'Maria Diangkat
ke Surga'? Kata mereka, ajaran itu tidak memiliki dasar di Kitab Suci. Kata
mereka pula, Gereja Katolik dipimpin oleh 'Nero' baru, itu sama dengan
anti-Kristus. Karenanya, pada akhir jaman semua yang berada di bawah pimpinannya
akan menerima balasannya. Menurut mereka juga, Gereja Katolik mengada-ada
tentang Maria, Maria disebut sebagai 'Tabut Perjanjian Baru'. Semua pertanyaan
ini ingin saya jawab, tetapi tidak tahu harus menjawab seperti apa?", demikian
keluhan umat yang sudah cukup lama tinggal di Paroki Kelapa Gading.

Fondamintalis Biblis

Untuk membekali umat dalam memperteguh dan mampu mempertangjawabkan imannya itu,
Romo Deshi Ramadhani menggelar seminar bertajuk Apologetika Biblis Katolik.
Dalam konteks tetap menjaga semangat ekumenis, namun tiba saatnya umat Katolik
harus bisa membela imannya.

Fondamentalis Biblis adalah sebuah gerakan yang mencoba menyerang Gereja Katolik
menggunakan tuduhan bahwa dogma-dogma dan ajaran Gereja Katolik tidak
mendasarkan diri pada Kitab Suci. Dengan mengutip ayat-ayat Kitab Suci, gerakan
itu membuktikan kesesatan-kesesatan Katolik.

Pengantar:

Diawali dengan latar belakang apa yang dikatakan oleh gereja tentang hubungan
kita dalam konteks ekumenisme dengan saudara-saudari Protestan dan melihat
tantangan dan contoh argumen mana yang selama ini sering digunakan untuk
menyerang kita. Pada umumnya hubungan kita baik-baik saja walau kenyataan tidak
selalu seperti itu, ada saat-saat di mana hubungan kita menjadi sesuatu yang
seperti perdebatan.

Sementara itu ada perkembangan di luar gereja Katolik yang tanpa kita ketahui
begitu kuat dan pesat mewarnai kekristenan dari gerakan Pentakostal karismatik
bahkan sekarang dikatakan gerakan Pentakostal karismatik menjadi aliran besar
dalam kekristenan setelah Katolik dan Protestan banyak negara yang Katolik
menjadi Pentakostal katrismatik, Brazil misalnya dan Filipin yang pelan-pelan
menuju ke arah itu.

Efeknya adalah banyak orang Katolik yang mudah diyakinkan oleh argumen-argumen
biblis. Sebuah data dari tahun 1994 menunjukkan bahwa anggotanya lebih dari
400juta dengan kecepatan pertambahan 19 juta per tahun. Berarti per hari mereka
mendapatkan 54.000 anggota baru. Diperkirakan ada sekitar 14 000 denominasi di
luar aliran-aliran besar Protestan sendiri sehingga pada tahun 1994 setiap
denominasi, mendapat 3 atau 4 anggota baru tiap hari. Pemasok paling besar
adalah gereja Katolik. Kelompok bekas Katolik ini bertambah begitu cepat karena
daya tarik gerakan Pentakostal. Ada satu ciri yang berjalan beriring dan
bercampur dengan perkembangan pentakostal tersebut yaitu cara penafsiran alkitab
secara fundamentalis sehingga ada istilah fundamentalis biblis.

Fundamentalis vs Katolik Roma

Tahun 1962 Loraine Boettner menulis sebuah buku berjudul Roman Catholicism. Buku
ini menjadi buku pegangan untuk orang-orang Protestan Fundamentalis Biblis garis
keras karena buku ini walau judulnya Roman Catholicism tapi isinya adalah segala
macam pembuktian berdasarkan teks-teks Kitab Suci yang ingin memperlihatkan
bahwa ada banyak hal yang keliru dalam gereja Katolik Roma, banyak hal yang tak
berdasarkan Kitab Suci secara eksplisit. Pernyataan ini ditambah dengan
kesadaran bahwa salah satu ciri fundamentalis biblis adalah mereka sangat
menaruh perhatian pada akhir zaman, ada perhitungan- perhitungan khusus.
Perhatian dititikberatkan pada akhir zaman karena menimbulkan motivasi sangat
kuat agar orang bertobat dan menjadi baik karena kalau tidak akan terlambat.
Dalam dinamika itu banyak orang juga digerakkan oleh buku tersebut dan justru
digerakkan oleh pengalaman rohani, cinta mereka akan Yesus, mereka masuk dalam
kelompok misi untuk mempertobatkan orang katolik.

Orang-orang muda itu berdoa sungguh-sungguh agar ada teman yang Katolik bisa
dipertobatkan karena mereka begitu sedih melihat banyak temannya disesatkan oleh
ajaran gereja Katolik sehingga akan binasa kalau akhir zaman tiba. Mereka punya
sebuah misi yaitu Mission to Catholics International, sebuah bentuk pelayanan
fundamental evangelikal yang ingin merangkul dan menjangkau orang-orang Katolik
dengan pesan keselamatan dari Kitab Suci. Prinsipnya hanya rahmat, hanya melalui
iman, hanya dalam Kristus, kita percaya keselamatan yang diajarkan hanya oleh
kitab suci saja.

BAGAIMANA BERJALAN BERSAMA/UNITATIS REDINTEGRATIO 11

Catatan: tidak semua orang Protestan adalah fundamentalis, tak semua orang
Pentakostal fundamentalis, tidak semua karismatik fundamentalis, tak semua
Protestan anti Katolik tapi ada dari mereka yang anti Katolik. Lalu menjadi
sebuah 'bahaya' karena kenyataan perkembangan karismatik Pentakostal yang
sedemikian cepat karena adanya cara penafsiran fundamentalis yang anti Katolik.

Unitatis Redintegratio 11. dokumen KONSILI VATIKAN II

+ Metode serta cara mengungkapkan iman Katolik jangan sampai menghambat dialog
dengan saudara-saudari kita. Memang seharusnyalah ajaran seutuhnya diuraikan
dengan jelas. Tiada sesuatu pun yang begitu asing bagi ekumenisme seperti
irenisme (sikap "suka damai") palsu, yang merugikan bagi kemurnian ajaran
Katolik, serta mengaburkan artinya yang otentik dan pasti.

+ Iman Katolik hendaknya diuraikan secara lebih mendalam sekaligus lebih cermat,
dengan cara dan bahasa yang sungguh dapat dipahami oleh saudara-saudari yang
terpisah.

Paus Benediktus XVI punya keyakinan bahwa relativisme iman itu membahayakan iman
Katolik. Kita harus berdialog tapi juga harus membela, mempertahankan,
menjelaskan apa yang buat kita menjadi kebenaran iman kita. Artinya kalau mau
berdialog dengan mereka, mau membuka diri untuk berbicara dengan mereka kita
perlu secara serius mempelajari apa yang ada dalam kekayaan kita yang bisa
menjadi bahasa yang sama yang bisa dipahami oleh saudara-saudari yang anti
Katolik itu dan bahasa mereka adalah kitab suci. Bahasa mereka tak ada yang
lain, mereka tak akan mengutip wejangan Paus, Dokumen Konsili Vatikan II, Dogma
gereja Katolik, apalagi ucapan santo-santa, selain itu kita juga, umat dan
hirarki, klerus, para romo, uskup seringkali begitu cepat bersembunyi dalam rasa
aman di balik bungkus yang disebut tradisi, magisterium.

Unitatis redintegratio 21

Akan tetapi dalam dialog sendiri sabda Allah merupakan upaya yang luar biasa
dalam tangan Allah yang penuh kuasa untuk mencapai kesatuan, yang oleh Sang
Penyelamat ditawarkan kepada semua orang.
Dokumen yang sama secara lebih ekplisit mengundang orang Katolik untuk melihat
Kitab Suci. Akan tetapi dalam dialog itu sendiri, sabda Allah merupakan upaya
yang luar biasa, artinya Kitab Suci yang kita miliki adalah upaya yang luar
biasa dalam tangan Allah dan yang penuh kuasa untuk mencapai kesatuan yang oleh
sang Penyelamat ditawarkan pada setiap orang.
Kita yang dipercaya oleh Tuhan untuk ikut serta dalam karya Allah mengusahakan
sabda yang ditulis itu supaya dikenal umat, diberi kepercayaan lebih lagi untuk
lebih serius mengusahakan bahasa Kitab Suci sebagai dasar menjelaskan kebenaran
iman. Bisa lewat analisis refleksi teologis tapi bisa juga dijelaskan hanya
dengan ayat-ayat yang mereka kenal itu.

BEBERAPA CONTOH.

TENTANG 666: Warning 666 is coming

Ini menu kesukaan orang fundamentalis anti Katolik.

Wahyu 13:18
13:18 Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia
menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang
manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.
Untuk orang fundamentalis biblis, 666 ini berarti binatang anti-Kristus yang
adalah Paus di Roma. Kitab Wahyu ditulis pada saat jemaat perdana mengalami
banyak pengejaran, penganiaya terbesar adalah kaisar Nero, banyak orang mati di
sana pada waktu itu dan angka 666 ini sebenarnya ditujukan untuk Nero. Tapi para
kaum fundamentalis tersebut mengatakan bahwa 666 itu adalah simbol untuk
siapapun yang berkuasa di Roma, kini yang berkuasa di Roma adalah Paus, maka
jangan heran banyak selebaran di sana-sini yang mengatakan bahwa apa yang
disebut sebagai anti-Kristus adalah Paus dan pengikutnya adalah semua orang
Katolik dan karena itu dia yang memimpin dan segala pengikutnya akan dibasmi
pada akhir zaman karena ketika anak manusia tampil kembali sang anti-Kristus
akan kalah.
Nero dalam tradisi literatur kuno atau antik ditulis dengan huruf-huruf dalam
kata-kata yang juga menjadi simbol untuk jumlah tertentu.
Nun dalam bahasa Yunani = 50
Resh 200
Waw 6
qoph 100
samech 60
NRWN QSR (666) dihitung jumlahnya 666
Para ahli dikejutkan oleh sebuah temuan, sebuah teks yang lebih tua dari teks
yang biasa kita pakai yang waktu itu ditulis tanpa huruf N di belakang NRW QSR,
untuk penulisan nama kaisar Nero sehingga kalau Nun tak ada berarti jumlahnya
hanya 616. Ini teks yang menurut banyak ahli lebih tua tapi kenapa lalu dibuat
bulat supaya jadi 666? Dalam cara penulisan itu huruf N akhir optional, bisa
ditaruh bisa tidak.

Tanggapan:

Dalam Kitab Suci kita ketahun bahwa 7 adalah angka sempurna, jadi 777 itu
sempurna sekali, di sini ingin dijelaskan bahwa ada sebuah kekuatan yang tak
bakal sempurna karena kesempurnaan hanya milik Tuhan, maka untuk kekuatan yang
paling menakutkan itu, simbol yang paling jelas adalah 666.
Seringkali ada orang membuat argumen pokoknya gerejamu anti-Kristus, kamu salah,
ada buktinya. Tetapi kalau mau serius berpikiran sehat sedikit kita akan
memahami bahwa 666 itu adalah Nero, kekuatan yang luar biasa yang membunuh para
pengikut Kristus.

MARIA HAWA YANG BARU/TENTANG MARIA DIKANDUNG TANPA NODA DOSA

Kita akan mencoba menguji ajaran iman dalam dogma Katolik tentang Maria
dikandung tanpa noda, Maria diangkat ke surga dengan tubuh dan jiwanya.
Kelompok Fundamentalis Biblis Anti Katolik mengatakan gereja lewat magisterium,
lewat Paus menambah sesuatu yang baru dalam Kitab Suci karena kalau ditanya
tentang dogma-dogma tersebut maka tak ada ayatnya dalam Kitab Suci. Teks Kitab
Suci tidak mengatakan apa-apa tentang Maria diangkat ke surga maupun Maria
dikandung tanpa noda, tapi kita akan membuktikan bahwa yang dilakukan oleh
Gereja Katolik sangat mendasar pada Kitab Suci.

1. Kej 1:1, kita membaca pada awal mula Allah menciptakan dunia, bdk Yoh 1:1
kita juga mendengar pada mulanya adalah Firman, Firman bersama dengan Allah dan
Firman adalah Allah. Orang yang terbiasa dengan Kejadian 1, atau orang Yahudi
yang mendegar Yohanes akan bilang hati-hati, ini merupakan rujukan pada kisah
Kejadian.

2. Ungkapan tentang terang Kej 1:3-5 bdk Yoh 1:4-5

3. Ungkapan saat Yesus dibaptis, Roh turun melayang Yoh 1:32-33 bdk Kej 1:2
dikatakan Roh Allah melayang-layang artinya orang yang terbiasa dengan kitab
Kejadian akan menangkap sesuatu yang mau dikatakan oleh Yohanes itu berkaitan
dengan Kitab Kejadian

4. Yohanes sangat gemar menghitung hari. Yoh 1:29 (hari ke-2), ayat 35 (hari ke
3), ayat 43 (hari ke-4), keesokan harinya. Dalam Yohanes 2:1 dikatakan pada hari
yang ke tiga berarti hari tersebut dihitung dari hari yang keempat, berarti itu
adalah hari ke tujuh, orang Yahudi yang terbiasa dengan Kitab Kejadian tahu
bahwa pada hari ke-7 Allah beristirahat, maka mereka akan menyatakan bahwa
Yohanes ingin mengatakan sesuatu yang terjadi pada hari ke tujuh. Pada hari ke
tujuh terjadi perkawinan di Kana. Yoh 2:4; 19:26-Yesus berkata: Perempuan,
waktu-Ku belum tiba. Maria disapa sebagai perempuan bukan mami, atau mama tapi
perempuan dan diucapkan lagi oleh Yesus pada saat di salib hai perempuan inilah
anakmu, inilah ibumu. Kata perempuan mengingatkan kita pada Kejadian 2:23,
ucapan bahwa Adam memberi nama perempuan itu Hawa, karena diambil dari
laki-laki. Kata perempuan ini kalau dilihat dalam Wahyu muncul lagi: Why 12:1, 9
perempuan.. ular iblis bdk Kejadian 3:15

5. Eva -><- ave="" baru="" br="" dihadirkan="" hari="" hawa="" lewat="" maria="" perhitungan="" sebagai="" yang="">dan sapaan sebagai perempuan dan dalam Wahyu terjadi bahwa Maria adalah hawa
yang baru. Hawa yang lama diciptakan tanpa dosa, waktu itu belum ada dosa,
diambil dari tulang rusuk, dikasih daging buzz jadi manusia, kalau Hawa yang
lama saja tidak berdosa, Hawa yang baru harus juga tidak berdosa, kalau tidak
bagaimana bisa jadi Hawa yang baru, sehingga gereja mengatakan Maria dikandung
tanpa dosa, karena merumuskan dengan dasar Kitab Suci Maria sebagai hawa yang
baru.

6. Gereja Katolik tak menambah sesuatu yang baru yang tak ada dalam Kitab Suci
sebaliknya gereja Katolik membaca secara serius seluruh isi Kitab Suci, dari
awal Perjanjian Lama sampai akhir Perjanjian Baru dan melihat bahwa Maria adalah
Hawa yang baru sehingga meskipun tak ditulis secara eksplisit, namun ada
kebenaran yang bisa dibuat secara eksplisit oleh Gereja dan Magisterium
mengatakan dia dikandung tanpa noda dosa.

TABUT PERJANJIAN YANG BARU/TENTANG DOGMA MARIA DIANGKAT KE SURGA

Bagaimana Maria dikatakan dalam gereja Katolik di mana ada hari Pesta Maria
diangkat ke surga. Tak ada ayatnya dalam Kitab Suci. Kalau kita melihat 2 Sam 6
bdk Luk 1. 2 Sam 6 berkisah tentang tabut perjanjian yang dibawa ke Yerusalem
oleh Raja Daud, dia menari-nari dan melonjak-lonjak kegirangan karena ada tabut
perjanjian yang dibawa ke Yerusalem lalu orang-orang yang membawa tabut dan
harus berhati-hati, bahkan ada insiden mereka pegang-pegang tabut perjanjian
tersebut dan ternyata salah lalu mati. Tabut Perjanjian tinggal selama tiga
bulan di sana. Bdk Luk 1, kisah tentang Maria yang mengunjungi Elisabet. Ketika
Maria datang ada yang melonjak kegirangan, yaitu bayi dalam kandungan Elisabet,
Elisabet merasa tak pantas, siapakah aku sehingga ibu Tuhanku mengunjungi aku .
Maria tinggal 3 bulan di sana. Untuk orang yang terbiasa dengan 2 Sam 6 maka
mereka akan melihat dengan jelas bahwa kisah dalam Perjanjian Lama terulang
kembali dalam kisah Maria mengunjungi Elisabet. Reaksi dalam tabut Perjanjian
Lama terulang dalam kandungan Elisabet, sehingga dikatakan Maria sebagai tabut
perjanjian yang baru.

ISI TABUT PERJANJIAN LAMA

Dua loh batu -> sabda

Dalam Tabut perjanjian berisi 2 loh batu atau 10 perintah Allah. Juga ada roti
manna, ada tongkat Harun, tongkat imam. Tabut Perjanjian Lama memuat Loh batu 10
sabda 10 perintah Allah, tabut perjanjian yang baru memuat sang sabda menjadi
daging,

Tongkat Imam Harun

Tabut Perjanjian Lama menyimpan tongkat imam Harun, tabut Perjanjian Baru, Maria
mengandung Sang Imam Agung itu sendiri
Ada roti manna sedangkan dalam Tabut Perjanjian Baru, Maria mengandung Yesus
yang adalah Sang Roti Hidup.
HOME

Maka data ini cukup kuat memperlihatkan Maria diperkenalkan sebagai Tabut
Perjanjian yang Baru

Apa yang terjadi dengan tabut perjanjian yang lama?

Lihat Wahyu 11:19 + 12:1 ada penampakan Bait Allah di langit dan tampaklah tabut
perjanjian itu. Tapi kalau melihat dengan lebih cermat, ternyata setelah
penampakan Bait Allah dan tabut perjanjian ke luar, maka terlihatlah seorang
wanita. Artinya kalau Maria adalah Tabut Perjanjian yang Baru dan jelas dilihat
kaitannya sangat erat, maka kalau tabut perjanjian yang lama diangkat ke surga,
Tabut Perjanjian yang Baru pasti juga diangkat ke surga. Dengan dasar ini gereja
Katolik menyimpulkan bahwa Maria diangkat ke surga, tak ada ayatnya tapi kalau
membaca Kitab Suci dengan jelas dari awal sampai akhir maka kesimpulannya tak
bisa lain Maria pasti diangkat ke surga.
Gereja Katolik tak mengada-ada atau membuat sesuatu yang baru tapi membuat
eksplisit apa yang dikatakan secara jelas oleh Kitab Suci. Dengan segala cinta
kita mau berdialog dan terbuka tapi ada saatnya iman kita harus berbicara dengan
bahasa yang mereka punya yaitu bahasa Kitab Suci. Kita diberi tanggungjawab
untuk mengajak umat punya bekal dalam hal ini.

Romo Deshi Ramadhani,
Katedral Jakarta 12 September 2009

Baik dibaca untuk melengkapi BKSN

sumber link
http://gerejastanna.org/apologetika-biblis-katolik-membela-iman-katolik/